Penurunan juga terjadi pada ICP SLC pada Oktober 2019 sebesar 1,8 persen menjadi US$59,98 per barel.
Tim Harga Minyak Indonesia mengungkapkan pelemahan tersebut salah satunya disebabkan oleh pesimisme pasar akan tercapainya kesepakatan perdagangan tahap I antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi itu menyebabkan rata-rata harga minyak mentah utama di pasar internasional melandai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, merosotnya harga minyak dunia juga dipicu oleh keraguan pasar terhadap realisasi wacana Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk memperbesar kuota pemangkasan produksi dalam pertemuan Desember mendatang.
Respons negatif pasar atas sejumlah serangan di beberapa fasilitas minyak mentah di Arab Saudi serta kepastian bahwa Arab Saudi dapat mengembalikan sebagian besar pasokan minyak yang hilang lebih cepat dari yang diperkirakan juga menekan harga minyak.
Pelemahan harga juga disebabkan oleh menurunnya marjin kilang di Asia seiring peningkatan biaya pengangkutan akibat pengenaan sanksi AS terhadap sejumlah perusahaan pelayaran China, serta berkurangnya ketersediaan kapal akibat proses perbaikan untuk mematuhi ketentuan pembatasan sulfur oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
"Faktor lainnya adalah berlimpahnya pasokan produk minyak akibat peningkatan aktifitas kilang di beberapa negara Asia," tambah Tim Harga Minyak Indonesia.
[Gambas:Video CNN]
Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Oktober 2019 dibandingkan September 2019:
- Dated Brent turun 6,4 persen menjadi US$59,72 per barel
- WTI (Nymex) turun 5,2 persen menjadi US$54,01 per barel
- Basket OPEC turun 4 persen menjadi US$59,88 per barel
- Brent (ICE) turun 4,3 persen menjadi US$59,63 per barel.