Lolos dari Resesi, Inggris Catat Ekonomi Tumbuh 1 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 12/11/2019 14:01 WIB
Lolos dari Resesi, Inggris Catat Ekonomi Tumbuh 1 Persen Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (AP Photo/Matt Rourke).
Jakarta, CNN Indonesia -- Inggris mencatat pertumbuhan ekonomi 1 persen pada kuartal ketiga tahun ini. Kendati pertumbuhan ekonomi itu terendah dalam satu dekade, namun pencapaian itu berhasil membawa Inggris keluar dari ancaman resesi, usai membukukan pertumbuhan negatif pada kuartal II 2019.

Resesi ekonomi adalah kondisi kontraksi pertumbuhan ekonomi yang terjadi dalam dua kuartal berturut-turut.

Biro statistik Inggris menyebut sektor manufaktur cenderung datar selama kuartal ketiga. Sementara, defisit perdagangan menyempit pada sektor ekspor barang dan jasa. Ruth Gregory, Ekonom Senior Capital Economics menuturkan kekuatan pertumbuhan cuma datang dari peningkatan belanja rumah tangga.

Menurut Gregory, pertumbuhan ekonomi Inggris tetap tercatat terlemah sejak 2010 lalu. Perlambatan ekonomi itu dipicu ketidakpastian keluarnya Inggris dari persekutuan Uni Eropa (brexit) sejak 2016 lalu.

Dilansir dari CNN.com, Selasa (12/11), ketidakpastian itu disebut-sebut telah membebani bisnis, investasi, dan produktivitas Inggris yang memang sudah terdampak perlambatan ekonomi dunia.

"Pemilihan Umum (pemilu) Inggris tinggal lima minggu lagi, jelas ini bukan kabar baik yang mungkin diharapkan pemerintah," imbuh dia.

Pemilu Inggris dinilai akan menjadi pertaruhan besar bagi investor. Lembaga pemeringkat Moody's sebelumnya mengatakan terlepas dari bagaimana brexit akan diselesaikan, kekuatan ekonomi dan fiskal Inggris nyatanya lemah.

"Kekuatan ekonomi dan fiskal Inggris kemungkinan akan lebih lemah untuk tumbuh dan lebih rentan terhadap guncangan daripada yang diperkirakan sebelumnya," terang Moody's.
[Gambas:Video CNN]
Moody's bahkan dapat segera menurunkan peringkat utang Pemerintah Inggris. Sebab, proses pembuatan kebijakan di era brexit dianggap inersia atau cenderung menolak perubahan dan melanjutkan kerusakan pada lembaga-lembaga di negaranya.

Kallum Pickering, Ekonom Senior Berenberg menambahkan kemenangan bagi Partai Konservatif atas Perdana Menteri Boris Johnson telah memberi peluang terbaik bagi pemulihan ekonomi Inggris yang berkelanjutan.

Malah, ia percaya diri Inggris dalam kondisi yang baik. "Jika risiko politik dapat sedikit memudar, belanja rumah tangga bisa mendukung pemulihan permintaan domestik lebih sehat lagi," tandas Pickering.


(hns/bir)