Studi LIPI: Permukaan Tanah Turun, Industri Harus Keluar DKI

CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 17:04 WIB
Studi LIPI: Permukaan Tanah Turun, Industri Harus Keluar DKI Ilustrasi banjir. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap Jakarta terancam tenggelam karena wilayah pesisir Jakarta, yakni Jakarta Utara, mengalami penurunan permukaan tanah 2,5 cm per tahun. Karenanya, pemerintah pusat diminta membuat kebijakan khusus untuk menggeser kawasan industri ke luar Jakarta.

"Kalau tata ruang kita tutup, ekonomi berhenti bergerak. Lantas mau dikemanain? Karena itu, di skala nasional, industri diarahkan ke luar Jakarta," ujar Kepala Dinas Cipta Karya, Pertanahan, dan Tata Ruang DKI Jakarta Heru Hermawanto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/11).

Menurut Heru, penurunan permukaan tanah terjadi karena banyaknya industri yang menggunakan air tanah. Terlebih, sekitar 60 persen wilayah Jakarta terisi dengan kegiatan ekonomi, yang membuat kondisi Jakarta semakin padat.

Ia menuturkan sebisa mungkin, perencanaan tata kota akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, ia menyadari Jakarta tidak mungkin membatasi gerak ekonomi yang datang dari luar ibu kota.

"Selama pusat kegiatan ekonomi di sini, Jakarta akan menjadi tujuan semua orang. Langkahnya seperti apa, ya itu perekonomian harus bergerak keluar bukan sentris di Jakarta," terang Heru.

Sebelumnya, Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Robert Delinom menyebutkan permukaan tanah di Jakarta terus menurun setiap tahunnya. Bahkan pada 2050, permukaan tanah di Jakarta, khususnya Jakarta Utara turun 75 cm dalam kurun waktu 30 tahun ke depan.

Penurunan 75 cm setara dengan satu kaki orang dewasa. Hitung-hitungan 75 cm didapat dari penelitian yang menemukan rata-rata permukaan tanah Jakarta menurun 2,5 cm per tahun.

Robert mengungkap ada tiga penyebab turunnya permukaan tanah. Pertama, disebabkan oleh pengambilan air tanah oleh penduduk Jakarta. Pengambilan air tanah berlebihan menyebabkan penurunan tanah di Jakarta.

"Ada yang turun karena ada pengambilan air tanah. Tidak 100 persen karena pengambilan air tanah. Karena ada faktor tanah," katanya.

Kedua, penurunan tanah juga disebabkan oleh faktor geologi, seperti jenis tanah aluvial. Tanah aluvial tergolong sebagai tanah muda yang terbentuk dari endapan halus, dan ketiga adalah tata guna lahan.
[Gambas:Video CNN]


(ctr/bir)