Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan window dressing biasanya terjadi di kuartal akhir.
"Akibat aktivitas rebalancing (perubahan komposisi saham) ini, saham-saham yang memiliki korelasi besar terhadap IHSG dan banyak dibeli fund manager akan mengalami penguatan," katanya kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, saham BRI naik 2,51 persen sepanjang pekan lalu menjadi Rp4.090 per saham. Akan tetapi, penguatan saham bank pelat merah ini mampu mencapai 11,75 persen sejak awal tahun.
Ia memprediksi sentimen window dressing mampu mengerek harga saham dua emiten itu. Saham BCA diprediksi mampu melaju ke level Rp31 ribu hingga Rp31.500 per saham, sedangkan Bank BRI ke level Rp4.000 per saham.
Senada, Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menuturkan menilai saham-saham di sektor perbankan, konsumer, dan konstruksi menjadi menjadi target akumulasi investor menjelang musim window dressing. Alasannya, saham-saham di sektor tersebut telah melemah cukup dalam sepanjang tahun, namun masih berpeluang mengalami kenaikan.
"Ketiga sektor ini sudah banyak koreksi dan masih lagging (tertunda) kenaikan harganya," ucapnya.
Data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sektor keuangan melemah 0,48 persen sepanjang pekan lalu. Tak jauh berbeda, barang konsumsi turun 0,37 persen dan infrastruktur turun paling tajam 1,31 persen.
Sementara itu, pada sektor konsumer ia menyarankan beli saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).
Dari sektor konstruksi, ia memperkirakan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).
Sektor konstruksi sendiri, diramal akan mendapat sentimen positif dari operasional proyek-proyek yang selesai dibangun pada 2019. Lewat berjalannya proyek-proyek tersebut, arus kas perusahaan diperkirakan menguat.
[Gambas:Video CNN]
Ia bilang, pelaku pasar bisa mulai mencicil borong saham-saham tersebut pada pertengahan November hingga pertengahan Desember. Sepakat dengan Hendriko, menurutnya saat tepat untuk membeli saham sebagai antisipasi window dressing adalah di harga rendah.
"Pelaku pasar bisa mulai masuk di minggu kedua Desember," katanya.