Juru Bicara McDonald's Simon Kenny membenarkan hal tersebut. Bahkan, ia menyebut perusahaan akan membayar kembali semua upah karyawan dalam 10 tahun terakhir.
Komitmen perusahaan untuk membayar kembali upah yang salah hitung bukan tanpa proses panjang. Diketahui, karyawan bersama serikat pekerja setempat menuntut pembayaran upah selama bertahun-tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:WeWork Bakal PHK Massal Pekan Ini |
Sejak saat itu, Unite Union telah bekerja sama dengan McDonald's dan Kementerian Inovasi Bisnis dan Perusahaan, termasuk badan pemerintah setempat untuk memberlakukan kebijakan ekonomi, untuk mencapai kesepakatan.
"Kami telah menghabiskan puluhan ribu jam mengerjakan proyek yang sangat rumit, untuk memastikan pendekatan dalam membuat perhitungan benar. Dengan kesepakatan yang ada, sekarang kami dapat memulai proses melakukan perhitungan individual," imbuh Kenny.
Pada 2016 lalu, pemerintah setempat memperkirakan sebanyak 763 ribu karyawan memiliki piutang upah dengan total biaya remediasi sebesar 2,2 miliar dolar Selandia Baru atau sekitar US$1,4 miliar.
Tak cuma perusahaan, lembaga pemerintah dan dewan kesehatan juga membuat kesalahan serupa dalam menghitung upah karyawan. Dewan kesehatan merilis berutang kepada petugas kesehatan hingga 650 juta dolar Selandia Baru (US$415,7 juta).
Persoalan salah hitung gaji di Selandia Baru disebut-sebut karena terkait produk hukum yang rumit dari UU Liburan yang berlaku sejak 2003 lalu. UU ini membuat pengusaha kerap salah dalam menafsirkan gaji dan insentif bagi karyawan dengan benar.
[Gambas:Video CNN] (bir)