Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.125 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi kemarin, yakni Rp14.130 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat yen Jepang menguat 0,15 persen, peso Filipina 0,04 persen, dan dolar Singapura juga menguat tipis 0,02 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, menurut Ibrahim, dengan memanasnya kembali kondisi global, Pemerintah terus melakukan strategi bauran untuk menenangkan kondisi pasar dan meyakinkan bahwa perekonomian dalam negeri sangat stabil sehingga arus modal keluar kembali tertahan.
Ibrahim juga menjelaskan bahwa BI hari ini telah menjadi pahlawan dengan melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF yang menguatkan nilai rupiah.
"Apa yang dilakukan oleh pemerintah maupun BI membuahkan hasil sesuai dengan keinginan pasar, sehingga rupiah kembali menguat dalam penutupan pasar sore ini," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (4/12).
Kendati demikian, sisi eksternal tetap melakukan penekanan pada penguatan nilai rupiah. Tekanan tersebut diakibatkan oleh perang dagang antara AS dan China.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan yang ditunggu-tunggu oleh semua pihak harus menunggu sampai pemilihan 2020, bertentangan dengan apa yang dikatakan penasihat seniornya Kellyanne Conway minggu ini bahwa kesepakatan itu bisa datang pada akhir tahun.
Trump kemudian mengancam bea hingga 100 persen untuk barang-barang Prancis, dari sampanye hingga tas dengan alasan pajak layanan digital telah merugikan perusahaan teknologi AS.
"Komentar Trump pada perdagangan sejauh ini telah menyebabkan kegemparan besar," ungkap Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan bahwa dalam perdagangan Kamis (5/12) besok, rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.080 hingga Rp14.125 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)