Ia mencontohkan kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Awalnya pasar sempat dibuat senang karena kedua negara memberikan sinyal akan meneken kesepakatan dagang.
Tapi, di tengah kegirangan pasar tersebut secara tiba-tiba Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan dagang dengan China baru akan dilakukan setelah pemilihan presiden 2020.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketidakpastian ekonomi, sambung Sri Mulyani, sebenarnya biasa dihadapi oleh pelaku usaha. Hanya saja, pelaku usaha tak lagi bisa memproyeksi berbagai keputusan dalam bisnisnya di tengah ketidakpastian ekonomi global dengan pola baru seperti ini.
"Hari ini yang kami percaya proyeksinya seperti ini, kemudian besok ada suatu kejadian jadi berubah sama sekali," jelas Sri Mulyani.
[Gambas:Video CNN]
Situasi ini akhirnya juga membuat ekonomi global semakin lesu. Makanya, Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan pertumbuhan ekonomi dunia hanya tiga persen tahun ini, turun dari posisi 2018 yang sebesar 3,6 persen.
"IMF selalu mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi dunia tiga persen itu sebetulnya sudah dekat resesi atau sudah resesi," ujarnya.
Oleh karena itu, Sri Mulyani menyatakan pemerintah akan memanfaatkan berbagai kebijakan fiskal demi menjaga ekonomi dalam negeri. Pemerintah siap menggelontorkan belanja lebih banyak demi menjaga daya beli masyarakat, sehingga tingkat konsumsi tak melorot.
"Kami di Kementerian Keuangan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen fiskal dalam rangka mengatasi ketidakpastian dan pelemahan yang berasal dari luar lingkungan perekonomian Indonesia," ucap Sri Mulyani.
"Kami rapat kabinet terus menurus dari makan pagi lalu makan siang lalu makan malam, bicarakan hal-hal yang menjadi penghalang investasi," pungkas Sri Mulyani. (aud/agt)