Mengutip data Global Islamic Economic Report 2019, Ma'ruf mengungkapkan nilai ekspor produk halal dari Brasil menembus angka US$5,5 miliar. Realisasi ini menempatkan Brasil ke peringkat pertama negara eksportir produk halal di dunia.
"Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan Brasil, yang disusul oleh Australia dengan nilai US$2,4 miliar," ujar Ma'ruf dalam acara pelantikan pengurus Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) 2019, Jumat (13/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, Indonesia negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya dapat menjadi produsen produk halal untuk kebutuhan pasar domestik dan menjadi eksportir produk halal untuk pasar dunia.
Untuk itu, Ma'ruf ingin semua pihak memberikan kontribusi bagi pengembangan industri produk halal nasional. Sebab, ia meyakini produk halal sejatinya bukan hanya dapat memenuhi ketentuan berdasarkan syariat Islam, namun juga baik bagi kesehatan masyarakat.
Tak ketinggalan, Ma'ruf juga ingin agar pengembangan industri keuangan syariah juga dilakukan, meski ada kenaikan peringkat yang didapat Indonesia dari sektor tersebut.
Berdasarkan Islamic Finance Development Indicator (IFDI), Indonesia mendapat kenaikan peringkat dari posisi 10 pada 2018 menjadi ke-4 dari 131 negara pada 2019.
Sementara, menurut Islamic Finance Country Index (IFCI), Indonesia berada di peringkat pertama pada tahun ini dari sebelumnya di peringkat ke-6 pada tahun lalu.
[Gambas:Video CNN]
Kendati begitu, Ma'ruf tetap ingin ada peningkatan karena kondisi industri keuangan syariah di dalam negeri sebenarnya masih kalah dari keuangan konvensional di dalam negeri.
Padahal, sambung dia, ekonomi dan keuangan syariah sejatinya bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan tingkat literasi dan inklusi di Indonesia. Tercatat, pangsa pasar keuangan syariah dari sektor perbankan dan asuransi di Indonesia baru mencapai 8,6 persen per Januari 2019.
Khusus untuk perbankan syariah, pangsa pasarnya baru sekitar 5,6 persen. Sisanya, pangsa pasar keuangan nasional dipegang oleh bank dan asuransi konvensional.
"Tapi saya ingin berpesan kepada kita semua bahwa upaya untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah jangan dilakukan dengan cara yang membenturkan dengan kemajuan ekonomi dan keuangan konvensional. Kita hidup dalam negara yang menganut dual economy system, sehingga perkembangan ekonomi syariah dan konvensional harus saling bersinergi," terang dia.
Kemudian, ekonomi dan keuangan syariah juga bisa membagi risiko dan imbal hasil di instrumen investasi yang dimiliki negara. (uli/bir)