Cerdas Kelola Bonus Akhir Tahun, Tutup Utang hingga Investasi

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 14/12/2019 12:37 WIB
Cerdas Kelola Bonus Akhir Tahun, Tutup Utang hingga Investasi Ilustrasi bonus akhir tahun. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang akhir tahun, perusahaan yang berhasil mengantongi keuntungan lebih biasanya akan turut membagi profit pada para karyawan lewat bonus akhir tahun.

Namun, kerap kali pendapatan tambahan ini justru raib begitu saja, seiring dengan peningkatan belanja karena merasa kantong lebih tebal.

Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Agustina Fitria, menyebut bonus akhir tahun seharusnya digunakan dengan bijak.


"Karena bonus kan di luar gaji tetap, jadi seharusnya bisa menjadi amunisi tambahan, bukan hanya 'numpang lewat' saja," ujar Agustina kepada CNNIndonesia.com, Jumat (13/12).

Menurut Agustina, ada beberapa hal yang perlu dilihat dalam menggunakan bonus akhir tahun.

Pertama, apakah ada kewajiban pembayaran utang yang perlu segera ditutup, khususnya yang bersifat konsumtif seperti cicilan kartu kredit, pinjaman online dan lainnya.  Bila ada, maka sebaiknya bonus diproritaskan untuk menutup utang tersebut.

"Jenis utang seperti itu harus segera ditutup agar bunganya tidak semakin membebani. Apalagi kalau barangnya sudah tidak berwujud lagi, sudah dipakai, sudah habis," ucapnya.

Kedua, bila utang konsumtif sudah berhasil ditutup, maka yang perlu dilihat selanjutnya adalah kebutuhan pengeluaran besar di tahun depan. Misalnya, dana masuk sekolah anak, kebutuhan puasa dan mudik, bayar pajak kendaraan bermotor, hingga liburan keluarga.

"Berhubung dana ini biasanya besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun, jadi tidak ada salahnya untuk dipenuhi sejak jauh-jauh hari," imbuhnya.

Ketiga, bila seluruh pengeluaran sudah terpenuhi, maka bonus bisa disisihkan untuk masuk ke tabungan dan investasi. Nah, kata Agustina, berhubung nominal bonus akhir tahun biasanya hanya sekitar gaji pokok lebih sedikit, maka sebaiknya pilihlah investasi yang pas untuk dibeli.

Anda mungkin bisa mencoba untuk membeli reksadana. Bila Anda sudah memiliki reksadana, maka tidak ada salahnya menambah nominal investasinya, alias top up.

Asal, menurut Agustina, reksadana yang akan di-top up memiliki historis yang menguntungkan. Sebaliknya, bila kinerja reksadana yang sudah Anda miliki kurang memuaskan, maka tidak ada salahnya memilih reksadana lain yang prospektif.

"Kalau mungkin nominal sisa bonus cukup kecil, Anda bisa top up reksadana atau simpan di tabungan misalnya deposito. Sebab, penahanan dananya juga relatif singkat, bisa pilih satu bulan, tiga bulan, enam bulan, kalau-kalau nanti mau dipakai pada tahun depan, tapi sekarang diinvestasikan dulu," jelasnya.

Senada, Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan penggunaan bonus akhir tahun harus sesuai dengan kebutuhan serta perlu melihat kewajiban pembayaran utang.

Namun, bila seluruh pengeluaran sudah terpenuhi, maka tak ada salahnya bila bonus turut digunakan untuk sedikit memanjakan diri. Misalnya, untuk pergi liburan tahun baru.

"Jangan juga kerja terlalu diforsir dan pengeluaran terlalu pelit, sesekali liburan untuk diri sendiri tentu juga boleh, asal dipertimbangkan betul pengeluarannya," ungkapnya.

Bila ada sisa untuk investasi, Andi menyarankan agar sisa bonus akhir tahun dialirkan ke instrumen reksadana, khususnya jenis pasar uang dan pendapatan tetap. Sebab, kedua instrumen itu dinilai paling aman, tapi bisa dibeli dengan nominal berapa saja.

Sementara reksadana saham dan campuran lebih berisiko.

"Tujuannya agar sisa bonus akhir tahun yang kalau-kalau nominalnya tidak besar tetap bisa berkembang dengan aman. Kalau instrumen lain kan cenderung lebih berisiko," katanya. (uli/vws)