EDUKASI KEUANGAN

Atur Ulang Keuangan usai 'Habis-habisan' Belanja Harbolnas

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 15/12/2018 12:11 WIB
Atur Ulang Keuangan usai 'Habis-habisan' Belanja Harbolnas Ilustrasi harbolnas. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang akhir tahun, masyarakat dimanjakan oleh beragam diskon, salah satunya Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Momentum turunnya harga gila-gilaan dimanfaatkan untuk membeli bermacam-macam barang yang diidamkan.

Tak hanya itu, akhir tahun bagi sebagian orang juga dimanfaatkan untuk berlibur bersama keluarga. Perkembangan teknologi membuat pemesanan tiket dan hotel menjadi semakin mudah. Fitur cicilan juga tersedia bagi yang tak memiliki dana cukup.

Beragam pengeluaran tersebut berisiko membuat kondisi keuangan terkuras. Untuk itu, sebaiknya susun strategi guna menata kembali keuangannya di awal tahun.


Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menjelaskan ada dua hal utama yang perlu diperhatikan dalam menata keuangan di awal tahun. Pertama, kondisi utang yang dimiliki. Kedua, anggaran pengeluaran setahun ke depan, termasuk anggaran liburan.


Tejasari mengimbau bagi masyarakat yang berutang segera menyusun rencana penyelesaian utangnya.

"Harus membuat rencana penyelesaian utang apalagi kalau utangnya berasal dari kartu kredit," ujar Tejasari saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (13/12).

Tejasari mengingatkan utang kartu kredit merupakan utang bunga berbunga. Selain itu, jika terlambat bayar nasabah akan dikenakan denda berikut bunganya.

"Denda kalau telat bayar (kartu kredit) sudah 150 ribu. Nanti belum tambah lagi bunganya. Kan sayang, mending uangnya untuk belanja," jelasnya.


Untuk melunasi utang, menurut dia, sebaiknya manfaatkan bonus akhir tahun. Jika uang untuk melunasi belum tersedia, utang dapat dicicil hingga lunas sesuai jadwal.

Idealnya, cicilan tak melampaui 30 persen dari penghasilan rutin, kecuali ada pemasukan tambahan. Namun, jika terpaksa harus membayar utang dalam jumlah besar, kurangi alokasi dana untuk pengeluaran pribadi.

"Kalau bisa jangan mengurangi tabungan tetapi pengeluaran pribadi. seperti jalan-jalan, kongkow, ngopi, segala macam dikurangin dulu supaya kita fokus untuk melunasi utang," terangnya.

Sementara untuk perencanaan anggaran pengeluaran termasuk liburan, menurut dia, sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari. Harga tiket dan akomodasi biasanya lebih murah jika dipesan jauh-jauh hari.

"Anak jaman sekarang hobinya dua, belanja sama jalan-jalan. Jadi harus dibikin jadwal. Jalan-jalan yang terjadwal, mau setahun dua kali, sekali. Mau ke mana dan uangnya dari mana," ujarnya.


Idealnya, lanjut Tejasari, anggaran liburan berasal dari pemasukan di luar pendapatan rutin, seperti bonus. Kendati demikian, dana liburan juga bisa dikumpulkan dari anggaran pengeluaran pribadi yang disisihkan.

Ia juga menyarankan untuk memiliki rekening khusus yang diperuntukan bagi pengeluaran jangka pendek seperti belanja rutin atau kebutuhan sehari-hari.

"Kalau kita mau belanja (rutin) ambilnya dari rekening itu. Jangan dari akun rekening yang lain. Kalau tidak, itu akan mengacaukan uang bulanan, mengacaukan rencana kita," jelasnya.

Tejasari pun menyarankan komposisi alokasi sebagai berikut:

(CNN Indonesia/Timothy Loen)
Porsi alokasi bisa menyesuaikan sesuai kondisi keuangan. Ia mencontohkan, jika belum berkeluarga, pengeluaran belanja rutin mungkin lebih kecil dari yang telah berkeluarga. Kelebihannya bisa dialihkan untuk membayar utang, menambah alokasi untuk pengeluaran pribadi, maupun tabungan atau investasi.

Senada dengan Tejasari, perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho juga menyarankan agar fokus melunasi utang insidental yang berasal dari belanja jor-joran maupun liburan di akhir tahun. Terlebih, jika kondisi keuangan sudah minus di awal tahun.

Menurut dia, tak perlu segan menggunakan tabungan untuk melunasi utang insidental. Pasalnya, jika dibiarkan, utang insidental yang timbul karena belanja atau liburan akhir tahun akan bunga berbunga. Apabila kondisi keuangan sudah minus potensi untuk kembali berutang juga semakin besar.


Jika tak memiliki tabungan yang cukup untuk melunasi utang, mau tak mau ikat pinggang harus rela dikencangkan. Setidaknya sampai kondisi keuangan seimbang atau hanya menyisakan cicilan utang jangka panjang, seperti Kredit Pemilikan Rumah maupun Kredit Kendaraan Bermotor. Selama periode itu, alokasi untuk tabungan dan investasi sebaiknya dialihkan untuk membayar utang insidental.

"Agar kondisi keuangan kembali seimbang mesti puasa, tidak senang-senang dulu untuk beberapa bulan ke depan. Supaya kewajiban-kewajiban tidak terlalaikan," pungkasnya. (agi/agi)