REKOMENDASI SAHAM

Aksi Akuisisi Dongkrak Saham Astra dan Bank Permata

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Senin, 16/12/2019 09:10 WIB
Aksi Akuisisi Dongkrak Saham Astra dan Bank Permata Analis merekomendasikan beli saham Bank Permata dan Astra setelah Bangkok Bank mengakuisi sahamnya dari Astra dan Standchart. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rasa penasaran pasar terhadap calon pemegang saham baru PT Bank Permata Tbk (BNLI) akhirnya terjawab. Pekan lalu, Bangkok Bank Public Company Limited (Bangkok Bank) akhirnya mengumumkan membeli saham Bank Permata dari Standard Chartered Bank (Standard Chartered) dan PT Astra International Tbk (ASII).

Total saham yang akan diambil alih sebesar 89,12 persen dari kedua pemegang saham tersebut, di mana masing-masing pihak memegang 44,56 persen saham Bank Permata.

Sedikit kilas balik, sinyal pelepasan saham Bank Permata mulai terendus pada Februari lalu. Kala itu, CEO Standard Chartered Bill Winters mengatakan akan melakukan restrukturisasi aset guna mencapai target rasio laba atas ekuitas yang berwujud (Return on Tangible/RoTE) di kisaran 10 persen pada 2021.

Winters mengaku bakal menjual bisnis dengan keuntungan rendah dan meningkatkan pendapatan dari bisnis di Korea Selatan dan India. Ia juga menyebut kepemilikan saham Standard Chartered di Bank Permata tidak akan lagi menjadi inti bisnis perusahaan, yang mengindikasikan potensi perusahaan akan melepas sahamnya pada Bank Permata.

Sebelum diakuisisi Bangkok Bank, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga sempat melakukan penjajakan dengan bank swasta itu. Namun, belakangan rencana tersebut diketahui tidak berlanjut.

Kabar akuisisi tersebut menjadi katalis pada saham Astra International dan Bank Permata. Pada Jumat (13/12) atau sehari usai pengumuman akuisisi saham Astra International melejit 4,58 persen ke level Rp6.850 per saham. Namun, saham Bank Permata justru ambruk 2,67 persen ke posisi Rp1.275 per saham.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas menjelaskan kenaikan saham Astra International lantaran perusahaan mendapatkan dana segar dari proses akuisisi. Dengan dana tersebut, Astra International dapat melakukan ekspansi bisnis ke depannya.

Mengutip keterangan resmi Bangkok Bank, total transaksi pembelian 89,12 persen saham sebesar Rp37,43 triliun, setara US$2,67 miliar (mengacu kurs Rp13.999) atau 81,01 miliar baht Thailand (mengacu kurs Rp462). Bangkok Bank membeli saham Bank Permata pada harga Rp1.498 per saham dari dua pemilik sebelumnya.

Harga tersebut sebesar 1,77 kali dari nilai buku (book value) Bank Permata. "Saham Astra International naik, karena memang dengan penjualan saham atas Bank Permata tersebut bakal menjadi amunisi baru," ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

Kenaikan saham Astra International terpantau terjadi sejak 3 bulan lalu, yakni sebesar 1,48 persen. Namun, sebetulnya, sejak awal tahun saham produsen otomotif itu justru turun 16,72 persen.

Kinerja saham Astra International berbanding terbalik dengan saham Bank Permata. Sejak awal tahun berbarengan dengan tersebarnya kabar akuisisi, saham Bank Permata langsung terbang sebesar 104 persen. Karenanya, Sukarno menilai pelemahan saham Bank Permata adalah bentuk aksi ambil untung investor usai lonjakan saham dengan kode BNLI tersebut.

Toh menurut dia, penjualan saham Bank Permata terbilang dalam rentang wajar. "Istilahnya sudah waktunya taking profit, bukan berarti penjualan saham Bank Permata karena dinilai Bank Permata menjadi beban buat Astra International," terang dia.
[Gambas:Video CNN]
Senada, Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyatakan penurunan saham Bank Permata adalah sentimen sell on news oleh pelaku pasar. Ke depan dua saham tersebut berpotensi menguat dengan proses akuisisi. Ia merekomendasikan beli untuk saham Astra International dengan target harga Rp7.300 dan Bank Permata dengan target harga di Rp1.500 per saham.

"Pasar telah mengantisipasi akan bergantinya owner (pemilik), jadi sangat wajar jika sekarang terjadi sell on news," katanya.

Prospek Bank Permata

Presiden dan Direktur Eksekutif Bangkok Bank Chartsiri Sophonpanich mengatakan setelah akuisisi selesai, perseroan akan fokus mengembangkan tiga lini bisnis Bank Permata.

"Komposisi dalam Bank Permata, yaitu segmen korporasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dan ritel cukup baik. Kami akan lanjutkan dan mendukung mereka dalam tiga bidang ini," jelasnya.

Selain tiga segmen tersebut, ia bilang Bangkok Bank akan mendorong digitalisasi pada bisnis Bank Permata. Saat ini, Bank Permata telah memiliki layanan m-banking, yakni Permata Mobile.

Analis Samuel Sekuritas Suria Dharma memprediksi bisnis Bank Permata ke depannya akan lebih baik. Pasalnya, Bank Permata akan berada di bawah kendali satu entitas, yaitu Bangkok Bank.

Selama ini, ia menilai Bank Permata kurang fokus pada pengembangan bisnis lantaran memiliki dua pengendali, yakni Standard Chartered dan Astra International.

"Sekarang kepalanya cuma satu, saya melihatnya begitu. Dan mereka (Bangkok Bank) berpengalaman dalam bisnis perbankan, jadi lebih fokus," imbuh Suria.

Penurunan kinerja Bank Permata mulai terlihat sejak 2015. Kala itu, laba perseroan anjlok 84 persen dari 1,59 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp247 miliar. Pada 2016, Bank Permata bahkan mencatatkan rugi mencapai Rp6,48 triliun.

Kinerja Bank Permata mulai membaik pada 2017 dan mulai mencatatkan laba sebesar Rp725,68 miliar. Sementara tahun lalu, bank tersebut mencatatkan laba Rp941,32 miliar. Pada kuartal III 2019, Bank Permata mencatat lonjakan laba bersih 121 persen secara tahunan (yoy) dari Rp494,15 miliar menjadi Rp1,09 triliun.

Karenanya, ia juga merekomendasikan beli saham Bank Permata. Hanya saja, pelaku pasar harus bersabar hingga proses akuisisi itu selesai untuk meraup cuan.

Dalam catatan Bangkok Bank mereka masih harus memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank of Thailand, serta persetujuan rapat umum pemegang saham Bangkok Bank atas proses akuisisi tersebut. Sebagai tahap awal, Bangkok Bank baru menandatangani perjanjian pembelian saham bersyarat dengan Standard Chartered dan Astra International.

"Rekomendasi buy, karena harga pembeliannya Rp1.498, sedangkan menurut saya valuasinya hanya Rp890 jadi ada peluang di situ, peluang upside masih banyak, masih tinggi," ujarnya.

Investor juga harus menanti proses dan mengamati harga saham tender offer saham Bank Permata. Akan tetapi, ia menyatakan harga akuisisi tersebut sudah sesuai dengan prediksinya.

Pengamat perbankan Indonesia Banking School (IBS) Batara Simatupang mengatakan rencana Bangkok Bank menggenjot bisnis digital akan memberikan keuntungan bagi Bank Permata.

"Ke depan ini bisa menekan biaya operasional pendapatan operasional (BOPO) dan meningkatkan return on assets (ROA) dan return on equity (ROE)," tuturnya.

Ia tak menampik jika kinerja Bank Permata saat ini belum menggembirakan. Ini terlihat dari beberapa indikator kinerja pada kuartal III 2019 yang masih di bawah rata-rata konsolidasi bank nasional.

Misalnya, ROA Bank Permata terbilang rendah 1,28 persen, sedangkan ROA nasional di posisi 2,48 persen. Lalu, ROE Bank Permata hanya 7,12 persen jauh di bawah standar umum keuangan, yakni 10 persen.

Selain itu, BOPO sebesar 87,21 persen lebih tinggi dari rata-rata perbankan nasional 80,50 persen. Lebih lanjut, Net Interest Margin (NIM) hanya 4,23 persen dari rata-rata nasional 4,9 persen.

Sementara, posisi (Loan to Deposits Ratio (LDR) Bank Permata memang lebih longgar, yakni 87,99 persen dibandingkan tingkat likuiditas perbankan nasional 94,34 persen. Adapun, kecukupan modal Bank Permata atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 19,4 persen atau lebih di bawah CAR rata-rata perbankan nasional 23,28 persen.


(bir)