"Kalau dalam batas kecepatan ya biasa saja, tidak bahaya. Kalau dalam keadaan ngantuk enak juga tuh, kayak dibangunkan gitu," ujarnya di Kantor Kemenhub, Senin (16/12).
Oleh karenanya, ia mengimbau pengguna jalan untuk tidak melintas dengan kecepatan tinggi. Ia merekomendasikan batas kecepatan tertinggi, yakni 80 Kilometer (Km) per jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia memastikan sambungan antara kerangka jalan tol layang (expansion joint) masih terjalin dengan baik. Pun demikian, hasil survei Kemenhub menyebut sebagian besar masyarakat masih merasa kurang nyaman saat berkendara di jalan tol layang sepanjang 36,4 Km tersebut.
"Kemarin saya sudah koordinasi dengan PUPR dan Jasa Marga. itu kan harusnya sambungan itu harusnya gak terasa, dan sekarang memang belum sempurna. Dirjen Bina Marga dan Jasa Marga akan memperbaiki itu dalam waktu dekat," tutur Budi.
"Secara umum, dari mulai siang, sore, hingga malam ada peningkatan pergerakan terutama Bandung-Jakarta. Artinya, secara bertahap, masyarakat semakin tahu tol elevated itu akan semakin membantu masyarakat," tuturnya.
Diketahui, rata-rata jalur Jakarta menuju Cikampek dilalui 20 kendaraan per menit, dan memiliki puncak rata-rata kendaraan sekitar 40 kendaraan per menitnya.
Berdasarkan hasil tersebut ,Budi menilai jalan tol layang itu akan mampu membantu ledakan jumlah kendaraan saat Nataru tiba, dan meminimalisir kemacetan. "Saya kira sudah cukup bagus," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Dari sisi keselamatan dalam persiapan menjelang Nataru,Budi menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki dari jasa marga selain perbaikan sambungan. Salah satunya, adalah jumlah Water barrier, dan concrete barrier yang dinilai terlalu banyak dan terkesan menyempitkan jalur tol.
"Kemudian ada marka jalan lama yang belum dihapus, jadi membingungkan. Ketiga, sign atau petunjuk yang diusulkan pakai neon box, sehingga di malam hari jadi malam hari kelihatan," tuturnya.
Sebelumnya, Pimpinan Proyek Area 1 PT Jasamarga Prajudi sempat menanggapi pertanyaan masyarakat yang menilai jalan tol Japek II 'bergelombang'. Ia bilang bahwa desain yang harus mengikuti kondisi di bawahnya, seperti jembatan penyebrangan orang (JPO). (ara/bir)