Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Selasa (17/12), mereka datang bergiliran. Tiga nasabah pertama datang sekitar pukul 10.40 WIB. Disusul dua nasabah lainnya pada pukul 10.52 WIB, dan dua nasabah lagi pada pukul 11.04 WIB.
Haresh, salah satu nasabah Jiwasraya, mengaku bersama rombongan lainnya akan bertemu dengan Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga. Pihaknya ingin meminta penjelasan dari pemerintah, selaku pemegang saham terbesar Jiwasraya mengenai penyelesaian pembayaran klaim produk saving plan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang menyambangi kantor Menteri BUMN Erick Thohir untuk menagih pembayaran klaim yang tertunggak. (CNN Indonesia/ Dinda Audriene). |
"Ditawarkan oleh Standard Chartered katanya hasil lebih bagus daripada deposito. Memang dibilang bagus jadi beli, lalu dibilangnya asuransi bebas pajak penghasilan," jelasnya.
"Mulai macet (pembayaran) 6 Oktober 2018. Dari saat itu sampai hari ini belum ada pembayaran," terang Haresh.
"Sudah mau tutup tahun, mau tahu beritanya bagaimana," kata Tomy.
Ia sengaja menempatkan sejumlah dananya di produk asuransi saving plan agar bisa menghasilkan keuntungan. Ia bilang polisnya jatuh tempo pada pertengahan tahun ini.
"Beli produk asuransi untuk mutar dana lagi," ucap Tomy.
Namun, pada Oktober 2018 lalu, perseroan meminta penundaan pembayaran klaim polis jatuh tempo sebesar Rp802 miliar akibat tekanan likuiditas. Pemerintah sejauh ini masih mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan gagal bayar Jiwasraya.
Rombongan nasabah Jiwasraya baru keluar kantor Kementerian BUMN sekitar pukul 11.40 WIB. Haresh menyatakan salah satu staf di Kementerian BUMN akan menemui nasabah setelah pukul 12.00 WIB.
"Mereka mengatakan kami akan dipertemukan oleh salah satu staf dari Kementerian BUMN setelah makan siang," kata Haresh.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)
Salah satu nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang menyambangi kantor Menteri BUMN Erick Thohir untuk menagih pembayaran klaim yang tertunggak. (CNN Indonesia/ Dinda Audriene).