Plt Direktur Utama (Dirut) Garuda Fuad Rizal menyebut untuk melaksanakan restrukturisasi tersebut bahwa pihaknya baru melakukan review anak usaha perusahaan.
"(Restrukturisasi) lagi (dalam tahap) review. Setelah RUPS, kita enggak tahu siapa, (restrukturisasi) itu sama direksi baru. Saya mandatnya cuma jaga operasional sampai RUPS. Setelah review selesai, mungkin akan dikasih tahu sebelum RUPS, 22 Januari," kata Fuad di Jakarta, Jumat (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) alias PLN juga diketahui memiliki 50 anak, cucu, dan cicit perusahaan. Jumlah unit usaha perusahaan setrum negara cukup banyak karena ada ketentuan pembentukan perusahaan pada suatu wilayah kerja pembangkit listrik.
Kendati demikian, pihak kementerian tetap ingin agar para anak, cucu, hingga cicit BUMN dievaluasi. Bila ada yang perlu digabung, maka akan dikonsolidasikan.
[Gambas:Video CNN]
"Kami ingin buat semua kembali ke bisnis inti masing-masing. Itu tetap mekanisme bisnis," kata Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga.
Diketahui, Garuda sendiri saat ini memiliki setidaknya 7 anak perusahaan, yakni PT Citilink Indonesia, PT Aerowisata, PT Sabre Travel Network Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT Aero Systems Indonesia (ASYST), dan Garuda Indonesia Holiday, serta PT Gapura Angkasa.
Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir sempat menyindir Garuda terkait keberadaan anak usaha PT Gapura Angkasa. Menurut Erick, jasa penanganan pesawat di darat (ground handling) itu seharusnya tidak berada di bawah Garuda.
Erick menyesalkan adanya overlapping dalam tugas tersebut yang kontraproduktif bagi perusahaan.
"Management ground handling itu enggak perlu ada di Garuda. Lebih baik itu ada di Angkasa Pura yang memang mengurus hal itu," ungkap Erick saat rapat kerja dengan Komisi VI di DPR, Senin (2/12).