Ekonom Institute for Development Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai kondisi sektor usaha pada 2020 bakal lebih optimal ketimbang tahun ini. Alasannya, absennya kegiatan berbau politik, seperti pilpres seperti yang terjadi pada 2019, diyakini akan mendorong pertumbuhan sektor usaha.
"Pengusaha semua sektor akan mulai lebih aktif. Karena 2019 selalu alasannya wait and see lantaran ada alasan politik. Tahun 2020 kan enggak ada alasan politik. Jadi, seharusnya confidence setiap sektor itu sudah lebih baik," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dirinci, infrastruktur yang berhasil dibangun ialah empat bandara, empat bendungan, sembilan jalan, enam kawasan, dua kereta, satu pelabuhan, dua smelter, dan dua teknologi.
"Masih banyak proyek yang akan dibangun, belum lagi pemerintah mengalokasikan anggaran besar-besaran, sekitar Rp400 triliun untuk sektor infrastruktur saja," jelas Aviliani.
"Karena kalau kita lihat kan dengan BPJS Kesehatan itu efeknya kemana-mana. Tidak hanya BPJS, tapi kan sekarang orang-orang sudah mulai mengerti makan sehat, nah dengan makan sehat itu, cenderung orang itu menjaga kesehatannya. Jadi industri makan minum itu juga bagus," tuturnya.
Sektor lain yang juga menjanjikan adalah wisata. Menurut Aviliani, fokus pemerintah kepada sektor wisata dengan menggelontorkan dana besar-besaran menjadi salah satu faktor yang menentukan. Presiden Jokowi sendiri juga sebelumnya telah mengisyaratkan akan bakar duit untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.
Diketahui. Kementerian Pariwisata juga telah mendapat tambahan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp6,35 triliun pada September 2019. Anggaran itu akan digunakan untuk empat destinasi super prioritas.
[Gambas:Video CNN]
Pengembangan wisata di Danau Toba akan mendapat tambahan dana sebesar Rp2,2 triliun, Borobudur Rp2,1 triliun, Mandalika Rp1,9 triliun, dan Labuan Bajo Rp300 miliar.
"Wisata ini juga akan semakin berkembang tahun depan. Selain itu, Indonesia sendiri sudah dikenal atas tempat-tempat wisatanya secara global. Tentunya ini akan mempermudah perkembangan sektor usaha di bidang wisata," kata Aviliani.
Tambang dan Pertanian Lesu
Sayangnya, tak seluruh sektor usaha berpotensi mengilap pada tahun depan. Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menyebutkan sektor usaha yang diprediksi 'melempem' salah satunya adalah pertambangan berbasis komoditas.
Menurut Lana, harga-harga komoditas belum akan meningkat tahun depan. Hal tersebut diakibatkan atas semakin rendahnya permintaan atas produk sektor komoditas, terutama pertambangan. Hal ini dikarenakan mulai beralihnya ketertarikan global terhadap energi baru terbarukan.
Lihat juga:Trik Agar Utang Tak Bikin Kantong Bolong |
Selain pertambangan, sektor properti pun juga diprediksi akan meloyo. Pasalnya, oversupply alias kelebihan pasokan dari bidang properti tidak dapat menyeimbangi permintaan masyarakat.
Tak hanya itu, Lana menyebut pada 2019, terjadi penurunan terhadap tingkat konsumsi masyarakat menengah, yang pada akhirnya membuat investasi dan pertumbuhan di sektor properti semakin seret.
Selanjutnya, sektor usaha yang menurut Lana masih kurang bagus adalah sektor pertanian. Ia menjelaskan permasalahan di sektor pertanian masih terkait dengan ketergantungan dengan harga.
"Perkebunan, pertanian itu masih masalah harga, karena kan kita ekspornya barang mentah, jadi masih sangat bergantung dengan harga. Kalau harganya masih turun, itu kecenderungannya mempengaruhi juga terhadap pertumbuhan sektor pertanian," pungkasnya. (ara/bir)