PERISKOP 2020

Wisata dan Kesehatan Jadi Primadona Usaha di Tahun Tikus

CNN Indonesia | Senin, 30/12/2019 15:03 WIB
Wisata dan Kesehatan Jadi Primadona Usaha di Tahun Tikus Pengamat menilai sektor usaha wisata dan kesehatan akan menjadi primadona di tahun tikus logam. (Dok. Biro Pers Sekretriat Presiden/Kris).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkembangan sektor usaha tentu tak terlepas dari kondisi perekonomian dan kebijakan makroprudensial pemerintah. Laju usaha tahun depan pun dapat berbeda dibandingkan tahun ini.

Ekonom Institute for Development Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai kondisi sektor usaha pada 2020 bakal lebih optimal ketimbang tahun ini. Alasannya, absennya kegiatan berbau politik, seperti pilpres seperti yang terjadi pada 2019, diyakini akan mendorong pertumbuhan sektor usaha.

"Pengusaha semua sektor akan mulai lebih aktif. Karena 2019 selalu alasannya wait and see lantaran ada alasan politik. Tahun 2020 kan enggak ada alasan politik. Jadi, seharusnya confidence setiap sektor itu sudah lebih baik," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/12).

Di antara sektor-sektor usaha, Aviliani menyebut sektor infrastruktur akan menjadi sektor yang paling berpotensi 'mengilap' di tahun tikus logam. "Kalau kita lihat dari potensi, pasti yang pertama infrastruktur. Karena pemerintah memberikan budgetnya sangat besar untuk sektor infrastruktur dan turunannya," jelasnya.

Tak ayal, strategi pembangunan infrastruktur memang telah menjadi senjata andalan pemerintahan Joko Widodo untuk memperkokoh pondasi perekonomian. Hal itu bisa dibuktikan dari 223 proyek dan 3 program Proyek Strategis Nasional (PSN) bernilai investasi mencapai Rp 4.202 triliun.

Sepanjang 2019 sendiri, terdapat 30 proyek dan satu program industri pesawat yang rampung dengan jumlah investasi sebesar Rp165,3 triliun.

Jika dirinci, infrastruktur yang berhasil dibangun ialah empat bandara, empat bendungan, sembilan jalan, enam kawasan, dua kereta, satu pelabuhan, dua smelter, dan dua teknologi.

"Masih banyak proyek yang akan dibangun, belum lagi pemerintah mengalokasikan anggaran besar-besaran, sekitar Rp400 triliun untuk sektor infrastruktur saja," jelas Aviliani.

Selain Infrastruktur, sektor kesehatan juga akan menjadi salah satu sektor usaha yang tumbuh melejit tahun depan. Tingkat konsumsi masyarakat atas gaya hidup sehat yang dicanangkan akan naik. Ditambah juga oleh bergeraknya program-program kesehatan dari pemerintah menjadi landasan atas pertumbuhan sektor tersebut.

"Karena kalau kita lihat kan dengan BPJS Kesehatan itu efeknya kemana-mana. Tidak hanya BPJS, tapi kan sekarang orang-orang sudah mulai mengerti makan sehat, nah dengan makan sehat itu, cenderung orang itu menjaga kesehatannya. Jadi industri makan minum itu juga bagus," tuturnya.

Sektor lain yang juga menjanjikan adalah wisata. Menurut Aviliani, fokus pemerintah kepada sektor wisata dengan menggelontorkan dana besar-besaran menjadi salah satu faktor yang menentukan. Presiden Jokowi sendiri juga sebelumnya telah mengisyaratkan akan bakar duit untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Diketahui. Kementerian Pariwisata juga telah mendapat tambahan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp6,35 triliun pada September 2019. Anggaran itu akan digunakan untuk empat destinasi super prioritas.
[Gambas:Video CNN]
Pengembangan wisata di Danau Toba akan mendapat tambahan dana sebesar Rp2,2 triliun, Borobudur Rp2,1 triliun, Mandalika Rp1,9 triliun, dan Labuan Bajo Rp300 miliar.

"Wisata ini juga akan semakin berkembang tahun depan. Selain itu, Indonesia sendiri sudah dikenal atas tempat-tempat wisatanya secara global. Tentunya ini akan mempermudah perkembangan sektor usaha di bidang wisata," kata Aviliani.

Tambang dan Pertanian Lesu

Sayangnya, tak seluruh sektor usaha berpotensi mengilap pada tahun depan. Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menyebutkan sektor usaha yang diprediksi 'melempem' salah satunya adalah pertambangan berbasis komoditas.

Menurut Lana, harga-harga komoditas belum akan meningkat tahun depan. Hal tersebut diakibatkan atas semakin rendahnya permintaan atas produk sektor komoditas, terutama pertambangan. Hal ini dikarenakan mulai beralihnya ketertarikan global terhadap energi baru terbarukan.

"Komoditas masih susah karena tahun depan itu harga-harga diprediksi masih belum meningkat. Bahkan sebagian masih akan turun. Jadi pertambangan itu masih harus diwaspadai," ungkapnya.

Selain pertambangan, sektor properti pun juga diprediksi akan meloyo. Pasalnya, oversupply alias kelebihan pasokan dari bidang properti tidak dapat menyeimbangi permintaan masyarakat.

Tak hanya itu, Lana menyebut pada 2019, terjadi penurunan terhadap tingkat konsumsi masyarakat menengah, yang pada akhirnya membuat investasi dan pertumbuhan di sektor properti semakin seret.

"Jadi memang ini yang perlu didukung oleh pemerintah itu bagaimana menggerakkan ekonomi, sehingga perlu kebijakan atau stimulus dari APBN atau APBD yang bisa menggerakkan ekonomi masyarakat, terutama yang menengah," imbuh dia.

Selanjutnya, sektor usaha yang menurut Lana masih kurang bagus adalah sektor pertanian. Ia menjelaskan permasalahan di sektor pertanian masih terkait dengan ketergantungan dengan harga.

"Perkebunan, pertanian itu masih masalah harga, karena kan kita ekspornya barang mentah, jadi masih sangat bergantung dengan harga. Kalau harganya masih turun, itu kecenderungannya mempengaruhi juga terhadap pertumbuhan sektor pertanian," pungkasnya.


(ara/bir)