Harga Emas Antam Mandek Dua Hari Berturut-turut

CNN Indonesia | Selasa, 31/12/2019 09:36 WIB
Harga Emas Antam Mandek Dua Hari Berturut-turut Harga emas Antam mandek di posisi Rp762 ribu per gram selama dua hari berturut-turut pada Selasa (31/12). (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam tak bergerak di posisi Rp762 ribu per gram pada Selasa (31/12). Begitu pula dengan harga emas pembelian kembali (buyback) di Rp678 ribu per gram pada hari ini.

Rata-rata harga jual emas Antam bisa dibilang sama seperti perdagangan Senin (30/12). Ini artinya, harga komoditas itu telah mandek dalam dua hari berturut-turut.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp405,5 ribu, 2 gram Rp1,47 juta, 3 gram Rp2,18 juta, 5 gram Rp3,63 juta, 10 gram Rp7,19 juta, 25 gram Rp17,88 juta, dan 50 gram Rp35,68 juta.

Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp71,3 juta, 250 gram Rp175,25 juta, 500 gram Rp355,8 juta, dan 1 kilogram Rp699,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.524 per troy ons atau naik 0,36 persen. Begitu juga dengan harga emas di perdagangan spot yang naik 0,41 persen ke US$1.521,37 per troy ons pada pagi ini.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memprediksi harga emas di pasar internasional bergerak di zona hijau. Tepatnya, di kisaran US$1.507-US$1.520.

"Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi pendorong penguatan harga emas pada akhir tahun ini," kata Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Ia memaparkan dolar AS tertekan dalam empat hari berturut-turut. Menurut Ariston, pasar sedang mengantisipasi sikap The Fed yang tak akan buru-buru dalam menaikkan suku bunga acuan pada 2020 mendatang.

[Gambas:Video CNN]


(aud/bir)