Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.901 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi Jumat (30/12), yakni Rp13.945 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, baht Thailand menguat 0,35 persen, ringgit Malaysia 0,34 persen, yuan China 0,32 persen, dan dolar Taiwan 0,24 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai penguatan rupiah pada penutupan tahun hari ini disebabkan oleh pelemahan indeks dolar AS.
"Hari ini penguatan rupiah masih mengikuti penguatan nilai tukar mata uang global terhadap dollar AS. Indeks dollar AS hingga sore ini masih melemah, sekarang di 96.64," kata Ariston saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (31/12)
[Gambas:Video CNN]
Menurut Ariston, pelemahan dolar AS kemungkinan berkaitan dalam antisipasi sikap bank sentral AS yang menyatakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga di 2020. Selain itu, Ariston menjelaskan bahwa sentimen positif juga datang dari meredanya perang dagang antara AS dan China yang mempengaruhi peningkatan aset-aset berisiko di pasar saham.
"Redanya kekhawatiran pasar mengenai perang dagang membantu penguatan sentimen positif di aset-aset berisiko," ungkapnya.
Lebih lanjut, Ariston memprediksi rupiah kembali bergerak menguat di awal 2020, dengan kisaran Rp13.860 hingga Rp13.960 per dolar AS.