Erick menyatakan skandal Jiwasraya telah mengikis kepercayaan investor untuk menanamkan dananya di Indonesia. Alhasil, investor melarikan dananya ke negara lain yang dirasa lebih aman.
"Bagaimana publik bisa percaya. Pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi pengelolaan tata kelola perusahaan tidak ada. Kemarin bursa melemah karena orang tidak ada yang percaya," ungkap Erick, Kamis (9/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, laporan keuangan Jiwasraya pada 2017 mendapatkan opini adverse atau dengan modifikasi dari Kantor Akuntan Publik (KAP) PricewaterhouseCoopers (PwC).
Manajemen Jiwasraya sebelumnya mengungkapkan bahwa penempatan investasi yang salah menjadi salah satu penyebab keuangan perusahaan memburuk. Maklum, perusahaan memiliki sejumlah portofolio di saham bervaluasi rendah (undervalue).
Nantinya, tunggakan klaim Jiwasraya kepada nasabah atas produk saving plan akan dibayarkan secara bertahap dari dana segar tersebut. Ditambah, ada sejumlah aset dari portofolio saham yang akan dilepas.
"Pembentukan holding ada arus kas Rp1,5 triliun, kami bisa cicil ke depan. Juga nanti ada aset yang saham itu bisa dilepas," jelas Erick.
Dia menegaskan pemerintah, dalam hal ini Kementerian BUMN tak akan melarikan diri dari kasus Jiwasraya. Meskipun, persoalannya sudah terjadi sejak 2006 lalu.
Sebelumnya, Ketua BPK Agung Firman Sampurna mengungkapkan laba keuangan Jiwasraya sejak 2006 semu. Sebab, raupan laba itu diperoleh karena rekayasa laporan keuangan (window dressing).
Sementara, Kejaksaan Agung (Kejagung) menemukan indikasi tindakan korupsi di tubuh Jiwasraya. Sejauh ini kerugian negara diperkirakan sebesar Rp13,7 triliun, tetapi jumlahnya diproyeksi bertambah seiring masih berjalannya proses pemeriksaan.
[Gambas:Video CNN] (aud/age)