Pengusaha China Masih Khawatir Soal Perang Dagang dengan AS

CNN Indonesia | Minggu, 12/01/2020 17:14 WIB
Pengusaha China Masih Khawatir Soal Perang Dagang dengan AS Ilustrasi perang dagang AS-China yang membuat pengusaha khawatir. (Istockphoto/Dilok Klaisataporn).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengusaha China mengaku tetap khawatir dengan kelanjutan hubungan dagang antara Negeri Tirai Bambu dengan Amerika Serikat. Padahal, kedua negara akan melangsung kesepakatan perdagangan fase pertama pada 15 Januari 2020.

Kesepakatan ini merupakan langkah awal dari AS-China untuk mengurangi tensi perang dagang yang telah berlangsung selama hampir dua tahun.

Pebisnis tetap menyiapkan strategi bisnis darurat karena tidak ingin mengambil risiko yang belum sepenuhnya sirna. Strategi darurat itu mulai dari mencari pasar baru di luar negeri, memperkuat bisnis di dalam negeri, hingga memindahkan produksi ke luar negeri.


Hal ini diungkap oleh Alfred Wong, CEO D&S Products Factory, perusahaan manufaktur yang berkantor pusat di Hong Kong, namun memiliki pabrik di kawasan perdagangan Shenzhen, China.

Ia mengatakan perusahaan sudah memindahkan hampir sepertiga produksi ke Sri Lanka sejak September 2019, meski belum terpukul oleh perang tarif bea masuk impor yang diberlakukan kedua negara.

"Bahkan jika mereka menandatangani kesepakatan fase satu, kami tidak tahu apakah keadaan akan berubah pada tahap selanjutnya," ungkap Wong, seperti dikutip dari AFP, Minggu (12/1).

Namun, ia mencatat jumlah pesanan produk telah menurun selama dua tahun terakhir akibat ketidakpastian hubungan dagang AS-China. Untuk itu, strategi bisnis China Plus One, yaitu mendiversifikasi operasi di luar negeri sudah harus dilakukan.

"Bahkan jika Presiden AS Donald Trump tidak ada di kantor, AS masih bisa mengambil tindakan terhadap China. Segalanya tidak mungkin kembali seperti sebelum perang dagang," katanya.

Senada, Jason Lee, CEO Shanghai EverSkill M&E, perusahaan komponen logam di China mengaku mulai mencari pembeli di luar AS yang selama ini menjadi pasar utamanya. Tujuannya, untuk mengembalikan pendapatan yang turun dalam beberapa waktu terakhir.

Sebab, perang dagang membuat konsumsi AS yang semula berkontribusi mencapai 60 persen dari total penjualan perusahaan, kini melorot menjadi 40 persen.

"Dalam jangka panjang, sebagai pemasok China, kami hanya dapat meningkatkan produk kami dan memastikan mereka lebih baik dibandingkan dengan yang dari tempat lain. Itu adalah solusi yang paling mendasar," kata Lee.

Sementara Ludwig Ye, Pimpinan Silver Star, perusahaan pembuat robot penyedot debu yang berkantor di Shenzhen menyatakan perusahaan mulai meningkatkan pemasaran melalui saluran lain. Misalnya, perdagangan elektronik (e-commerce).

"Kebijakan ekonomi makro tidak berada dalam kendali pemilik bisnis kecil seperti kita," ucap Ye.

Bahkan, beberapa perusahaan mulai mengurangi program riset, penelitian, dan pengembangan produk baru untuk menekan pengeluaran. Perusahaan lebih memilih untuk fokus menggarap pasar produk yang sudah dikenal pasar.

Sayangnya, di sisi lain, hal ini justru berpotensi menekan perusahaan yang kerap membutuhkan riset untuk mendongkrak penjualan seperti produsen gadget. Sebab, perusahaan butuh riset untuk menciptakan inovasi baru di pasaran.

Di sisi lain, Kepala Penelitian Bank UOB China Suan Teck Kin agak sangsi bila China nantinya akan mengikuti kesepakatan dagang damai dengan AS. Khususnya, untuk membeli lebih banyak produk pertanian Negeri Paman Sam setidaknya mencapai US$40 miliar per tahun dalam kurun waktu dua tahun.

[Gambas:Video CNN]

Sementara Ekonom Senior ING Iris Pang mengatakan perang dagang selama ini sejatinya hanya menguntungkan sebagian kelompok kecil namun memberikan kerugian yang lebih besar bagi kelompok lain. Khususnya, perusahaan-perusahaan di bidang teknologi.

"Tampaknya ada peningkatan perang teknologi antara China dan AS serta antara China dan seluruh dunia. Ini bukan hanya perang dagang, ini adalah perlawanan menyeluruh terhadap pengembangan teknologi canggih China," pungkasnya.

(sfr/sfr)