Ia ingin ibu kota baru tak hanya mendapat kucuran dana dari investor asing namun juga teknologi terbaik dari berbagai negara di dunia.
Tawaran ini disampaikan langsung oleh Jokowi ketika menjadi pembicara kunci di forum internasional bertajuk Abu Dhabi Sustainability Week (ADSW). Forum tersebut digelar di Abu Dhabi National Exhibition Center (ADNEC), Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, menurutnya, pembangunan ibu kota baru akan menjadi proyek yang menarik bagi investor karena akan berpopulasi sekitar 6 juta sampai 7 juta orang. Angka ini berasal dari estimasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) mencapai 1,4 juta orang ditambah anggota keluarga yang ikut diboyong mereka.
Menurutnya, estimasi populasi ini akan memberikan daya tarik bagi pengembangan ekonomi di kawasan ibu kota baru. Jumlah ini, sambungnya, bahkan lebih tinggi dari beberapa ibu kota pemerintahan sejumlah negara di dunia, sehingga ibu kota baru nanti tidak akan menjadi kota berskala kecil dan sepi.
Lebih lanjut, ibu kota baru akan memberikan kontribusi tidak hanya di kawasan tersebut, namun juga perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Hal ini, katanya, akan menjadi daya tarik juga untuk investor.
Sementara pemerintah turut menikmati pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan dari proyek tersebut.
"Di negara yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, konsep pemerataan pembangunan sangat diperlukan sehingga pembangunan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Ini yang kami namakan Indonesia sentris," pungkasnya.
Sedangkan 11 perjanjian lain merupakan kerja sama antar bisnis di bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset dengan estimasi total nilai investasi sebesar US$22,89 miliar atau sekitar Rp314,9 triliun.
[Gambas:Video CNN] (uli/age)