Dikutip dari Antara, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengungkap kegagalan Asabri dalam menempatkan investasi hanya bisa diselesaikan pemerintah tanpa jalur antarbisnis. Pasalnya, Asabri merupakan perusahaan asuransi sosial bersifat wajib bukan asuransi privat atau komersil.
Sehingga, tidak memungkinkan Asabri untuk mendapat investor strategis yang dapat menutupi kebutuhan pendanaan. Sehingga, penggabungan Asabri dengan BPJS TK lebih cepat dari peta jalan yang disiapkan pada 2029 menjadi opsi penyelesaian masalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BPK Cium Permasalahan Asabri Sejak 2016 |
Irvan menambahkan sambil menunggu audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pemerintah harus mengungkapkan aktor intelektual yang membuat Asabri merugi karena gagal dalam penempatan investasi.
"Saat ini, masalah Asabri harus dicari aktor intelektualnya dan dia harus mengembalikan dana investasi dari Asabri. Mau tidak mau harus begitu. Karena pemerintah tidak mungkin memberikan bailout (dana talangan) sesuai amanat di Undang-Undang PPKSK. Dicari investor strategis juga tidak bisa karena itu asuransi sosial," ujar dia.
"Mungkin tidak kalah fantastis dengan kasus Jiwasraya, di atas Rp10 triliun," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu (10/1).
Seperti halnya dengan masalah di PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Asabri juga menempatkan portofolio investasi pada saham yang harganya anjlok, sehingga terjadi depresiasi nilai aset secara drastis milik perusahaan.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmojo mengungkapkan kementeriannya masih bersama-sama Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) sedang mengkaji akar masalah kegagalan investasi dan nilai kerugian yang diderita Asabri.
Manajemen Asabri membantah sejumlah pemberitaan yang beredar seperti dugaan korupsi di tubuh perusahaan. Manajemen menegaskan kegiatan operasional terutama proses penerimaan premi, proses pelayanan, dan proses pembayaran klaim berjalan dengan normal dan baik.
"Asabri dapat memenuhi semua pengajuan klaim tepat pada waktunya," klaim perseroan dalam pernyataan resmi, dikutip Senin (13/1).
Manajemen mengungkap telah melakukan penempatan investasi dengan mengedepankan kepentingan perusahaan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
[Gambas:Video CNN] (age/bir)