Sebelumnya, ketimpangan yang lebar menandakan ketidakmerataan pengeluaran masyarakat. Semakin tinggi angka rasio gini, ketimpangan semakin melebar. Sebaliknya, semakin kecil angka rasio gini, ketimpangannya semakin kecil.
"Untuk menurunkan ketimpangan memang memerlukan upaya yang luar biasa dan biasanya pencapaian itu baru bisa dirasakan dalam beberapa tahun karena untuk menurunkan ketimpangan tidak bisa seketika," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, pengeluaran golongan masyarakat tidak mampu atau 40 persen terbawah masih 17,71 persen dari total pengeluaran masyarakat.
"Distribusi pengeluaran 40 persen terbawah masih di atas 17 persen. Artinya, kalau mengikuti kriteria Bank Dunia, ketimpangan di Indonesia masih rendah," paparnya.
"Kondisi ini terjadi hampir di semua negara. Kalau bicara ketimpangan, di kota pasti lebih tinggi dan ini kasat mata," tuturnya.
BPS juga mencatat rasio gini tertinggi masih berada di DI Yogyakarta sebesar 0,428. Kemudian disusul oleh Gorontalo sebesar 0,41 persen dan Jawa Barat sebesar 0,398 persen.
Adapun rasio gini terendah tercatat di Kepulauan Bangka Belitung 0,292, Kalimantan Utara 0,292, dan Sumatera Barat 0,307.
[Gambas:Video CNN] (sfr/agt)