ANALISIS

RUPLSB Garuda Sarat Bagi-bagi Kekuasaan

Aria Ananda & wel, CNN Indonesia | Rabu, 22/01/2020 18:40 WIB
RUPSLB Garuda memutuskan nama direksi dan komisaris baru, namun sejumlah PR menanti maskapai BUMN. RUPSLB Garuda memutuskan nama direksi dan komisaris baru, namun sejumlah PR menanti maskapai BUMN. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan nama-nama direksi dan komisaris baru. Nama-nama itu menggantikan eks direktur utama Ari Askhara dan kawan-kawan yang tersandung kasus penyelundupan Harley Davidson dan Brompton.

Nama-nama baru yang muncul adalah Irfan Setiaputra yang duduk di kursi dirut. Mantan pejabat PT Inti (Persero) yang melanglang buana ke perusahaan teknologi, seperti IBM, Linknet, dan Cisco. Lalu, Triawan Munaf dan Yenny Wahid yang duduk di kursi komut dan komisaris independen.

Namun, patut diingat, masih banyak juga wajah-wajah lama yang menghiasi jajaran direksi dan komisaris Garuda. Sebut saja, Direktur Operasi Tumpal Manumpak Hutapea, Direktur Human Capital Aryaperwira Adileksana, dan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Fuad Rizal.


Pengamat BUMN Danang Widoyoko tak mempermasalahkan penempatan orang lama di kursi direksi dan komisaris. Ia menilai wajah lama penting untuk menjaga kesinambungan dan membantu direksi baru bergerak cepat.

Namun, ia mencatat absennya pengumuman target jajaran baru tersebut. Bahkan, ia bilang penunjukkan direksi dan komisaris baru tak lebih penting dari target yang seharusnya disematkan kepada mereka.

"Kalau seperti ini, yang kurang dari Menteri BUMN Erick Thohir targetnya apa dan berapa lama mereka (direksi baru) diberi target? Kapan dievaluasi lagi? Kalau tidak ada target, ini sekadar bagi-bagi kekuasaan," sindirnya, Rabu (22/1).

Lebih lanjut ia menuturkan pergantian direksi yang tak disertai komposisi pengukuran keberhasilan kerja dan kompetensi, tidak akan menyelesaikan masalah yang ada di badan perusahaan. "Kalau tidak bisa menyelesaikan permasalahan keuangan dalam setahun, siap mundur nggak?" tanya Danang.

[Gambas:Video CNN]

Pengamat Penerbangan Alvin Lie emoh mengomentari penunjukkan direksi dan komisaris baru secara individu. Ia justru menekankan soal utang Garuda yang akan jatuh tempo pada Mei 2020 sebesar US$500 juta atau Rp7 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS).

Tak hanya soal utang, ia juga mengingatkan soal rute-rute internasional yang merugi. Semisal, London, Inggris. "Kenapa London? Kenapa tidak Amsterdam saja yang lebih ramai?" terang dia.

Pengamat BUMN Toto Pranoto menambahkan persoalan lain Garuda yang perlu dibenahi adalah reputasi dan citra perseroan. "Ini membutuhkan strong leadership, termasuk tata kelola perusahaan yang baik (GCG)," jelasnya.

Sebagai pengingat, beberapa tahun terakhir maskapai pelat ini terbelit sejumlah masalah. Dari sisi keuangan, perusahaan menderita kerugian menahun. 

Pada 2018 lalu, Garuda Indonesia mencatat rugi bersih sebesar US$175 juta atau sekitar Rp2,45 triliun. Sebelumnya, manajemen terbukti melakukan manipulasi laporan keuangan tahun buku 2018 dari rugi menjadi untung. 

Kinerja perusahaan baru membaik pada kuartal III 2019 lalu dengan raihan laba sebesar US$122,42 juta setara Rp1,71 triliun.

Perusahaan juga menghadapi persoalan manajemen. Pada akhir tahun lalu, mantan Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Ari Askhara diduga melakukan penyelundupan komponen Harley-Davidson dan sepeda Brompton pada armada baru Airbus A330-900 NEO yang didatangkan dari Toulouse, Prancis.

Imbasnya, Menteri BUMN Erick Thohir mencopot Ari dari posisinya. Tak hanya mengganti Dirut, Dewan Komisaris Garuda Indonesia juga mencopot empat direksi perusahaan yang berkaitan dengan penyelundupan komponen motor Harley-Davidson.



(bir)