Krakatau Steel Restrukturisasi Utang Rp30 T

CNN Indonesia | Selasa, 28/01/2020 20:12 WIB
Krakatau Steel Restrukturisasi Utang Rp30 T PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melakukan restrukturisasi utang perseroan sebesar US$2,2 miliar atau setara dengan Rp30 triliun. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melakukan restrukturisasi utang perseroan sebesar US$2,2 miliar atau setara dengan Rp30 triliun (dengan asumsi kurs Rp13.663 per dolar AS) per kuartal III 2019.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyebut restrukturisasi utang tersebut merupakan yang pertama dan terbesar, setelah upaya yang dilakukan perseroan selama dua tahun terakhir.

"Memang tidak mudah, ini adalah restrukturisasi utang mungkin yang terbesar, sekitar US$2,2 miliar. Prosesnya panjang, dimulai dari 20 Desember 2018 sampai 12 Januari 2020," kata Silmy dalam Public Expose Krakatau Steel di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (28/1).


Berdasarkan paparannya, restrukturisasi utang tersebut melibatkan 10 bank nasional, bank swasta nasional, serta bank swasta asing.

Sebelumnya, pada 30 September 2019 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank ICBC Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Eximbank), dan PT Bank Central Asia Tbk. telah sepakat untuk melakukan relaksasi pembayaran utang dalam perjanjian induk restrukturisasi (MRA).

Pada 29 Desember 2019, PT Bank DBS Indonesia dan PT Bank OCBC NISP Tbk mengawali perjanjian aksesi terhadap perjanjian induk restrukturisasi. Kemudian, pada 12 Januari 2020 dua bank swasta lainnya yakni Standard Chartered Indonesia dan PT CIMB Niaga Tbk. ikut dalam perjanjian induk yang sama.

Penandatanganan persetujuan pembiayaan ini dilakukan untuk mendukung rencana transformasi bisnis keuangan Krakatau Steel menjadi lebih sehat.

"Beban bunga dan kewajiban pembayaran pokok pinjaman menjadi lebih ringan, sehingga membantu perbaikan kinerja perusahaan dan memperkuat
perusahaan" ucap Silmy.

Silmy memaparkan bahwa proyek restrukturisasi akan dilanjutkan hingga utang lunas pada 2027.

"Proyek restrukturisasi ini akan berlangung selama sembilan tahun. Jangka panjang, diharapkan operasi perusahaan menjadi lebih baik," ujarnya.

Melalui restrukturisasi Ini, total beban bunga utang Krakatau Steel selama sembilan tahun dapat diturunkan secara signifikan dari US$847 juta menjadi US$66 juta.

"Selain itu, penghematan biaya juga kami dapatkan dari restrukturisasi Krakatau Steel utang selama sembilan tahun sebesar US$685 juta", pungkasnya.

Berikut adalah total pinjaman Krakatau Steel :
1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk : US$618.288.941
2. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk : US$425.924.860
3. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk : US$337.391.891
4. PT Bank CIMB Niaga Tbk : US$238.336.921
5. PT Bank OCBC NISP Tbk : US$138.659.862
6. PT Bank ICBC Indonesla : US$44.269.390
7. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia :US$79.832.618
8. PT Bank DBS Indonesia : US$48.617.012
9. Standard Chartered Bank : US$25.620.928
10. PT Bank Central Asia Tbk : US$48.693.599
Total : US$2.005.636.024

Langkah selanjutnya, Silmy mengaku akan mendorong agar dilakukan dukungan kebijakan regulasi regulasi impor baja. Ia menyebut regulasi itu merupakan hal terpenting lainnya untuk mendukung pertumbuhan industri baja yang sehat.

Menurut Silmy, impor baja saat ini sudah menghantam industri baja nasional dari hulu hingga hilir. Hingga September 2019, besi dan baja masih menempati posisi tiga besar komoditi impor yang masuk ke Indonesia dengan nilai US$7,63 miliar.

"Bersama Kementerian BUMN, kami memberikan masukan kepada kementerian terkait agar pasar dan industri baja di Indonesia bisa lebih sehat," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]


(ara/age)