Virus Corona Ancam Bisnis Apple di China

CNN Indonesia | Jumat, 31/01/2020 15:45 WIB
Virus Corona Ancam Bisnis Apple di China Analis khawatir virus corona mengancam bisnis Apple, yang banyak bergantung pada manufaktur China. Ilustrasi. (Reuters).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari 10 perusahaan Amerika Serikat (AS) di China bakal berjuang mengatasi kerugian bisnis akibat wabah virus corona. Namun, di antara mereka yang berjuang, analis setempat memperkirakan Apple paling banyak menanggung kerugian karena perusahaan teknologi raksasa tersebut banyak bergantung pada manufaktur China.

Tidak cuma manufaktur, pertumbuhan bisnis Apple juga banyak ditopang oleh konsumen China. Karenanya, Sejumlah analis mengkhawatirkan wabah virus corona yang berkepanjangan dapat menekan produksi dan penjualan Apple.

Diketahui lebih dari 170 orang meninggal dunia terkait virus corona dengan kasus orang terjangkit dilaporkan mencapai 7.700. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan resmi menetapkan status gawat darurat terhadap wabah virus corona.

Ironisnya, virus corona menyerang saat Apple baru saja pulih dari perlambatan penjualan. Tiga bulan terakhir pada 2019 lalu bahkan menjadi awal titik balik Apple ketika permintaan meroket berkat popularitas iPhone keluaran terbarunya, 11.

Namun, kekhawatiran wabah virus corona menghancurkan harapan bahwa permintaan akan terus berlanjut. "Kembalinya pertumbuhan bisnis Apple di China mengesankan. Jika bukan karena virus corona, keberlanjutan bisnis Apple di China tidak akan dipertanyakan. Ini adalah risiko yang perlu dipantau investor," ujar Tom Forte, Senior Analis DA Davidson.

Virus Corona Ancam Bisnis Apple di ChinaIlustrasi: CNN Indonesia/Fajrian


Dilansir dari CNN Business, pada awal pekan ini, Apple memperkirakan membukukan pendapatan antara US$63 miliar-US$67 miliar pada kuartal I 2020. Target perolehan telah memperhitungkan ketidakpastian yang diakibatkan oleh epidemi virus corona di China.

Maklumlah, penularan virus corona yang masih dikhawatirkan saat ini memaksa kegiatan ekonomi di China terhenti, meski libur Tahun Baru Imlek diperpanjang sampai 2 Februari. Banyak toko-toko tutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Bahkan, akses keluar masuk Wuhan, pusat epidemi berasal, ditutup, termasuk juga kota-kota di sekitar Provinsi Hubei, China. Moda transportasi, pesawat, kereta, maupun bus antar kota dan antar provinsi juga dihentikan sementara.

[Gambas:Video CNN]


Pusat Manufaktur

Ritel-ritel AS yang telah menghentikan operasional mereka sementara waktu, antara lain Starbucks, Pizza Hut, dan McDonald's. Apple sendiri memperkirakan penjualannya akan terdampak paling tidak 15 persen karena ancaman virus corona mempengaruhi bisnis.

Namun, tak seperti ritel-ritel lainnya, CEO Apple Tim Cook mengaku lebih khawatir gangguan manufaktur di China yang dapat berakibat pada produksi Apple. Sebab, manufaktur Apple berpusat di China, tak terkecuali mitra pemasok di Wuhan.

Foxconn, salah satu mitra manufaktur utama Apple untuk produksi iPhone menyebut, pihaknya mengikuti jadwal libur yang ditetapkan Pemerintah China. Artinya, Foxconn tidak berencana menutup pabrik setelah 2 Februari nanti.

Virus Corona Ancam Bisnis Apple di ChinaIlustrasi: CNN Indonesia/Fajrian


"Kami tidak mengomentari praktik produksi secara spesifik, tetapi kami dapat mengkonfirmasi bahwa kami memiliki langkah-langkah untuk memastikan memenuhi semua kewajiban manufaktur global," terang Foxconn dalam keterangan resmi.

Analis Synovus Trust Company Daniel Morgan menuturkan Foxconn mengaku memiliki pengalaman menangani produksi manufaktur setelah epidemi SARS pada awal 2003 silam. Pernyataan ini tentu menjadi pertanda baik bagi Apple.

"Jadi, jika Anda melihat bahwa Foxconn bermasalah, itu berarti menjadi indikasi bahwa Apple juga akan memiliki masalah. Jika mereka melakukannya (menutup pabrik), ya mungkin ada beberapa risiko," tandas Morgan. (khr/bir)