Pasalnya, dengan anomali tersebut, di tengah kondisi ekonomi global yang sedang lesu, Indonesia justru mampu mempertahankan pertumbuhan di kisaran 5 persen. Badan Pusat Stastistik (BPS) mencatat ekonomi dalam negeri tumbuh 5,02 persen pada sepanjang 2019 kemarin.
Realisasi pertumbuhan itu melambat dibandingkan 2018 yang masih bisa 5,17 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:OJK Cabut Izin Usaha Recapital Sekuritas |
Sementara itu, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi global cenderung lesu sepanjang 2019, salah satu pemicunya, perang dagang.
Sebelumnya, beberapa lembaga keuangan internasional merevisi turun pertumbuhan ekonomi global. Sebut saja, Bank Dunia (World Bank) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,3 persen pada 2019.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan menyentuh 2,9 persen. Namun, laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019 memotong pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 2,6 persen. Sri Mulyani menyebut banyak negara 'kehabisan amunisi' dan kekurangan strategi dalam menghadapi pelemahan ekonomi global.
Kondisi tersebut terefleksi dari kebijakan negara yang kurang akomodatif terhadap kondisi pelemahan ekonomi global.
"Pada 2019, menciptakan pertumbuhan paling lemah salah satunya karena negara kehabisan strategi dalam menghadapi pelemahan ekonomi global dan ini mengkhawatirkan," katanya.