Ekonom Core Indonesia Piter Abdullah, misalnya, menyebutkan Erick belum menjawab pertanyaan utama terkait wacana pemangkasan perusahaan BUMN. Yaitu, mekanisme pemangkasan dan tolak ukur perusahaan BUMN yang mana saja yang dapat dipangkas.
"Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mekanismenya? BUMN mana yang mau ditutup? Contohnya, bank BUMN ada 4. Apa Erick Thohir berani merger?" ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang mesti dibenahi ya di hulu. Regulasinya, tata kelola, standarnya. Road map (peta jalan) BUMN ini seperti apa sih? Jangan nanti politik lagi," terang dia.
Pemangkasan BUMN, sambung Firdaus, hanya satu dari berbagai cara penyehatan yang mungkin ditempuh. Namun, ia mengingatkan kebijakan apapun yang ditempuh tidak akan efektif jika tidak disertai judgement bisnis yang tepat.
[Gambas:Video CNN]
Kelola Uang Besar
Menurut Piter, pemerintah terutama harus memperhatikan BUMN yang mengelola keuangan dalam jumlah besar, seperti sektor energi, pertambangan, perbankan, asuransi, dan jasa keuangan lainnya, termasuk juga konstruksi.
"Perbankan, asuransi, jasa keuangan, uangnya besar. Tata kelolanya rentan salah," kata Piter.
Di sektor keuangan sendiri, terdapat perusahaan BUMN, seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN, termasuk non bank, seperti Asuransi Jiwasraya, Jasa Raharja, Askrindo, Jamkrindo, dan Jasindo, serta manajer investasi Danareksa.
Selain memangkas jumlah perusahaan, pemerintah akan mengevaluasi anak dan cucu perusahaan BUMN yang tidak sesuai dengan bisnis inti induk perusahaan pelat merah. (wel/bir)