Mengintip Bisnis Luar Angkasa yang Habiskan Rp4.104 Triliun

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 09/02/2020 14:47 WIB
Mengintip Bisnis Luar Angkasa yang Habiskan Rp4.104 Triliun Satu roket SLS yang meluncur membutuhkan dana sekitar Rp21,8 triliun. (Screenshot via web Nasa.gov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bisnis 'luar angkasa' kini mulai banyak dilirik oleh para pebisnis. Bahkan, di India semakin banyak perusahaan rintisan yang bergerak dalam bisnis astral tersebut.

SpaceX besutan Elon Musk menjadi salah satu pelopor 'booming'nya bisnis luar angkasa. Puncaknya, saat ini sedang disiapkan perjalanan liburan ke bulan yang akan menelan biaya hingga miliaran dolar AS.

Di balik semua inovasi dan kemajuan bisnis luar angkasa, tidak banyak yang tahu bisnis ini membutuhkan uang yang tidak sedikit.


Sekelas NASA saja masih kelimpungan untuk mendanai proyek-proyek perjalanan dan penelitian ke luar angkasa. Dilansir dari CNNBusiness, NASA sedang menyiapkan astronaut untuk kembali menginjakkan kaki di Bulan.

NASA sudah 'menabung' hampir satu dekade untuk membangun roket raksasa tersebut. Tak tanggung-tanggung, badan antariksa AS ini merogoh kocek hingga US$1,6 miliar atau setara dengan Rp21,8 triliun (dengan asumsi kurs Rp13.600 per dolar AS).

Uang tersebut digunakan NASA untuk membuat roket dengan nama Space Launch System. Administrator NASA Jim Bridenstine membuka dana yang harus dikeluarkan NASA untuk memesan roket menuju bulan.

Bridenstine mengungkap NASA harus mengeluarkan US$800 juta atau setara dengan Rp10,9 triliun (dengan asumsi kurs Rp13.600 per dolar AS). Harga fantastis tersebut jika NASA memesan roket massal.

Jika NASA hanya membeli satu, maka harganya akan melambung 100 persen menjadi US$1,6 miliar. Nilai tersebut terbilang besar dan mengundang gelombang protes.

Roket SLS memang diklaim menjadi roket terkuat. Namun, banyak kritikus menilai masih banyak roket yang memiliki harga jauh lebih murah.

Salah satunya adalah roket komersial, seperti yang dibangun oleh SpaceX dan United Launch Alliance. Roket ini dibanderol jauh lebih murah dari SLS.

NASA harus merogoh US$90 juta per peluncuran jika menggunakan SpaceX dan kapasitas angkatnya hanya sedikit lebih sedikit daripada SLS.
Mengintip Bisnis Luar Angkasa yang Habiskan Rp4.104 TriliunRoket SLS yang menelan dana minimal Rp10,9 triliun. (Screenshot via web Nasa.gov)
Sementara, United Launch Alliance, perusahaan patungan antara Lockheed Martin dan Boeing juga membangun roket yang disebut Delta IV Heavy yang menelan biaya sekitar US$300 juta.

Biaya ke luar angkasa belum berhenti hanya di situ. NASA memperkirakan program ke bulan atau Artemis diperkirakan membutuhkan uang dengan kisaran US$20 miliar hingga US$30 miliar atau setara dengan Rp4.104 triliun. (dengan asumsi kurs Rp13.600 per dolar AS)

Asuransi Roket Luar Angkasa

Bukan hanya biaya roket dan perlengkapan yang mahal dari sebuah misi ke luar angkasa. Peluncuran roket pun memiliki asuransi.

Dikutip dari Observer, selama beberapa dekade terakhir, peluncuran roket semakin sering dan aman. Pasalnya, tingkat kegagalan sebuah misi luar angkasa baik berawak dan tanpa awak terus menurun dari 20 persen pada awal 1960 menjadi single digit pada 2010an.

Potensi ini membuat bisnis asuransi roket dinilai potensial. Serupa dengan mobil, roket pun memiliki asuransi namun tentu dengan nilai yang jauh berbeda.

Observer mengungkap berdasarkan Space Launch Report sepanjang 2018 ada 114 roket yang meluncur ke luar angkasa. Dari semua peluncuran tersebut, industri asuransi luar angkasa secara keseluruhan mengumpulkan premi hingga US$450 juta dan membayar US$600 juta untuk klaim.

Rata-rata asuransi roket bernilai US$5 juta per peluncuran roket. Klaim per peluncuran mungkin atau bahkan mungkin lebih tinggi, karena tidak semua roket diasuransikan.

Beberapa kegagalan peluncuran terbesar cenderung diikuti oleh premi asuransi yang jauh lebih tinggi. Trik ini agar dapat menekan beberapa perusahaan roket dan satelit agar tidak membeli asuransi sama sekali. Pasalnya, berbeda dengan asuransi mobil, asuransi roket tidak bersifat wajib.

Beberapa klaim besar asuransi roket telah diajukan sepanjang 2019. Pada Januari, satelit pencitraan WorldView-4 yang berusia dua tahun dari Maxar Technologies gagal di orbit.

Perusahaan menghasilkan klaim US$183 juta. Pada Juli, roket Vega dari Badan Antariksa Eropa yang membawa satelit pengamatan militer untuk Uni Emirat Arab jatuh tak lama setelah lepas landas. Kegagalan ini mengakibatkan perusahaan asuransi harus membayar klaim setidaknya US$37 juta dalam kerugian.

Munich Re Jerman adalah salah satu perusahaan asuransi di balik peluncuran Vega. Perusahaan aerospace Italia Avio Aero, yang membangun roket Vega mengatakan sebenarnya memiliki tingkat keberhasilan 100 persen sebelum insiden itu.

Tak lama setelah kegagalan Vega, perusahaan Swiss Re, penjamin emisi utama di sektor penerbangan, mengumumkan akan keluar dari pasar luar angkasa.

Mereka mengungkap perusahaan memiliki kinerja yang buruk dalam beberapa tahun terakhir dengan tingkat premi yang tidak berkelanjutan.

Dalam industri asuransi peluncuran roket dan satelit, kekhawatiran mendasar bukanlah pembayaran klaim. Tetapi tantangan untuk memprediksi berapa premi asuransi yang harus dinaikkan sebelum insiden terjadi.

"Ada sejumlah pemain asuransi yang meninjau posisi mereka atau menarik diri dari pasar asuransi luar angkasa ini," jelas Dominique Rora, penjamin emisi ruang angkasa senior di AXA dikutip dari Observer.

Jika eksodus perusahaan asuransi dari luar angkasa terus berlanjut, seluruh sektor asuransi mungkin akan menjauh dari booming industri luar angkasa.

Penelitian terbaru Morgan Stanley memperkirakan bahwa proyeksi sementara ekonomi antariksa global akan meningkat tiga kali lipat dalam dua dekade mendatang hingga melampaui US$1 triliun. Sementara, sektor asuransi luar angkasa hanya akan tumbuh sekitar 14 persen dari sekitar US$700 juta hingga US$800 juta.

Namun, beberapa pengamat luar angkasa menilai janji jangka panjang industri ini hanya membutuhkan kepercayaan bahwa perusahaan asuransi hanya harus menunggu ketidakpastian keluar.

"Ya, risikonya bisa sangat tinggi. Namun, ini adalah area teknologi di mana akan jauh lebih mudah untuk memprediksi risiko, karena input biaya untuk peluncuran roket, seperti muatan dan bahan bakar, relatif mudah untuk dianalisis," ujar Andrew Chanin, CEO Procure AM, perusahaan investasi luar angkasa kepada Observer.

[Gambas:Video CNN]


(age/age)


ARTIKEL TERKAIT