"Tekad untuk mewujudkan pembangunan yang lebih merata antardaerah sebagaimana termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 jauh dari terwujud," ujar Faisal dalam situs resminya, dikutip Senin (10/2).
Faisal mengungkapkan porsi Jawa dalam 'kue' perekonomian nasional yang tercermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) kian meningkat. Hal itu menggambarkan pembangunan ekonomi yang masih Jawasentris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemerosotan porsi Maluku & Papua pada 2019 disebabkan oleh perekonomian Papua yang mengalami kontraksi alias pertumbuhan negatif dua digit, persisnya minus 15,72 persen gara-gara produksi PT Freeport (Indonesia) anjlok ke titik terendah," ujarnya.
Menurut Faisal, penurunan produksi Freeport tak lepas dari tindakan pemerintah mengambil alih kepemilikan saham mayoritas perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu.
Ia mengingatkan untuk mengambil alih saham mayoritas, Inalum perlu berutang US$4 miliar atau setara Rp58 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dolar AS). Apabila uang tersebut dibagikan ke 3,3 juta penduduk Papua pada 2018, setiap orang akan memperoleh sekitar Rp17,5 juta.
Di Bali dan Nusa Tenggara, porsi ekonominya memang meningkat dari 2,5 persen pada 2013 menjadi 3,1 persen. Namun, kondisi Bali berbanding terbalik dengan NTT dan NTB.
"Rerata pertumbuhan Bali selama 2011-2019 maupun di era pemerintahan Jokowi-JK (2015-2019) lebih tinggi dari pertumbuhan nasional maupun Jawa, sedangkan pertumbuhan Nusa Tenggara, baik Nusa Tenggara Timur maupun Nusa Tenggara Barat, sebaliknya," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Di sisi lain, pemerintahan Jokowi berhasil mengerek kontribusi Sulawesi terhadap perekonomian nasional. Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Sulawesi selalu di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang terjebak di kisaran 5 persen. Tak ayal, porsi ekonomi Sulawesi meningkat dari 4,8 menjadi 6,3 persen pada 2019 lalu.
Melihat hal itu, Faisal menilai pengelompokkan Kawasan Barat Indoensia (KBI) versus Kawasan Timur Indonesia (KTI) tidak lagi relevan.
Sebab, pembangunan di Sumatera dan Kalimantan yang masuk KBI lebih lambat dibandingkan Jawa. Sementara, kinerja Sulawesi jauh di atas pulau-pulau lain di KTI.