Temuan Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) dan Greenpeace Asia Tenggara melansir kerugian tersebut berasal dari pembakaran minyak dan gas (migas), termasuk batu bara.
"Kami menemukan bahwa China daratan, Amerika Serikat (AS), dan India, menanggung rugi paling tertinggi akibat polusi udara dari bahan bakar fosil di seluruh dunia, dengan perkiraan kerugian sebesar US$900 miliar, US$600 miliar, dan US$150 miliar per tahun," tulis laporan tersebut, seperti dilansir AFP, Rabu (12/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara total, ia memperkirakan kerugian akibat polusi udara dari bahan bakar fosil pada 2018 lalu mencapai US$2,9 triliun.
"Tetapi, ini adalah masalah yang kita tahu bagaimana menyelesaikannya. Misalnya dengan beralih ke sumber energi terbarukan, menghapus mobil diesel dan bensin, termasuk membangun transportasi umum," imbuh dia.
[Gambas:Video CNN]
Indonesia Terdampak
Laporan CREA menjelaskan polutan yang paling mahal adalah bahan partikel halus mikroskopis (PM 2.5), yang menyumbang lebih dari US$2 triliun per tahun dalam kerusakan, diukur dengan dampak kesehatan dan kematian dini.
Rincian global untuk kematian dini setiap tahun adalah 500 ribu orang akibat NO2, satu juta kematian akibat ozon, dan 3 juta akibat PM 2.5.
Sekitar 40 ribu kematian anak setiap tahun sebelum mereka berulang tahun ke-5 akibat polutan PM 2.5 yang menembus jauh ke dalam paru-paru, masuk ke aliran darah, dan membuat masalah pernafasan kardiovaskular. Pada 2013, WHO mengklasifikasikannya sebagai penyebab kanker.
Secara global, WHO menyebut polusi udara menyumbang 29 persen dari total kematian di dunia akibat kanker paru-paru, 17 persen dari infeksi saluran pernafasan akut, serta dari stroke dan penyakit jantung. (afp/bir)