Jika dirinci, defisit pada Januari berasal dari nilai ekspor US$13,41 miliar yang lebih kecil dibandingkan impor yang mencapai US$14,28 miliar.
"Defisit neraca perdagangan ini dipicu oleh sektor migas yang mengalami defisit 1,18 miliar dolar AS, walaupun sektor nonmigas surplus 0,32 miliar dolar AS," kata Kepala BPS Suhariyanto seperti dikutip dari Antara, Senin (17/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan juga terjadi pada ekspor nonmigas yang sebesar 5,33 persen dari US$13,3 miliar menjadi US$12,6 miliar. Ekspor industri pengolahan meningkat 3,16 persen menjadi US$10,522 miliar, sedangkan ekspor pertambangan lainnya menurun 19,15 persen menjadi US$1,78 miliar.
Sedangkan, nilai impor Indonesia pada Januari 2020 turun 1,60 persen dibanding Desember 2019. Demikian pula jika dibanding Januari 2019 turun 4,78 persen.
Penurunan impor migas dipicu oleh merosotnya nilai impor minyak mentah US$185,3 juta atau 26,50 persen dan hasil minyak US$124,5 juta atau 10,13 persen. Sebaliknya, nilai impor gas melejit US$163,7 juta atau 79,68 persen.
"Tentunya kami harapkan, misalnya implementasi biodiesel 30 (B30) akan bergulir dengan mulus sehingga neraca perdagangan akan lebih baik," ujarnya.
Sementara, penurunan impor nonmigas terjadi pada barang konsumsi mencapai 11,19 persen secara month to month menjadi US$1,46 miliar, barang baku/penolong meningkat 1,67 persen menjadi US$10,57 miliar, dan barang modal melorot 8,99 persen menjadi US$2,23 miliar.
Berdasarkan negara asal impor, total nilai impor non migas dari tigabelas negara selama Januari 2020 sebesar US$9,67 miliar atau turun 3,14 persen dibanding Desember 2019. Kondisi tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor beberapa negara utama seperti China 3,08 persen menjadi US$ 125,2 juta, Thailand 14,14 persen menjadi US$104,5 juta, dan Australia 26,36 persen menjadi US$86,9 juta.
[Gambas:Video CNN]