"Saya rasa perlu mewaspadai efek virus corona terhadap kinerja perekonomian, khususnya ekspor dan impor setelah libur Imlek. Dampaknya mungkin akan terlihat pada data Februari 2020. Kita semua perlu waspada," kata Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Senin (17/2).
Ia menyebut virus tersebut dapat berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap ekspor dan impor khususnya antara Indonesia dan China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini disebabkan oleh turunnya nilai impor beberapa negara utama, salah satunya adalah China sebesar 3,08 persen menjadi US$ 125,2 juta. Sementara untuk negara lainnya, adalah Thailand 14,14 persen menjadi US$104,5 juta, dan Australia 26,36 persen menjadi US$86,9 juta.
Sebelumnya, virus corona menjadi isu utama yang menyorot perhatian global beberapa pekan terakhir karena telah menjatuhkan banyak korban, serta penyebaran virus yang mengglobal. Walaupun Indonesia masih berstatus bebas dari virus tersebut, dampak virus tersebut sudah dirasakan dari sisi perekonomian negeri.
"Misalkan impor, tapi pabrik di sana banyak yang di-shut down (tutup). Karena liburan imleknya juga diperpanjang, dari segi produksinya bermasalah. Terus, barang yang mau diekspor ke sana itu juga masalah, mau gimana? Pesawat juga gak ada," jelasnya.
Menurut Hariyadi, banyak produk Indonesia yang akhirnya mengalami perlambatan dalam proses ekspor ke China beberapa waktu terakhir, seperti barang-barang komoditas, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), dan barang jenis mineral seperti nikel dan sebagainya.
[Gambas:Video CNN]
(ara/age)