Pertama, sebesar Rp3,8 triliun untuk menambah anggaran kartu sembako murah yang dalam APBN 2020 hanya Rp28,08 triliun menjadi Rp31,88 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan penambahan itu merupakan stimulus fiskal yang akan diberikan demi memperkuat ekonomi domestik pada 2020.
"Dengan tekanan ekonomi ini kami akan terus perbaiki respons dari kebijakan fiskal untuk mencapai dampak yang lebih positif," kata Sri Mulyani, Rabu (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami akan finalisasi perhitungan sektor pariwisata dalam bentuk diskon kepada penumpang dan biro perjalanan. Kami akam segera tentukan dan luncurkan," jelas Sri Mulyani.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, pemerintah juga akan segera meluncurkan program kartu pra kerja tahun ini. Kementerian Keuangan sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 triliun untuk 2 juta kartu pra kerja.
"Ini untuk melengkapi dan memperkaya program pelatihan yang ada. Untuk skilling dan re-skilling," terang Sri Mulyani.
Selain itu, pemerintah bakal berupaya mempercepat pencairan belanja modal. Hal ini dilakukan dengan mempercepat pelaksanaan tender dan pencairan anggaran strategis.
Sebagai informasi wabah Virus Corona mulai 'menginfeksi' perekonomian dalam negeri. 'Infeksi' terlihat dari perlambatan penerimaan perpajakan hingga kepabeanan dan cukai pada awal tahun ini.
Penerimaan perpajakan itu baru setara 4,5 persen dari target sebesar Rp1.865,7 triliun yang ditetapkan pemerintah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Ia menyatakan penerimaan pajak dari sektor perdagangan sebesar Rp22,18 triliun atau hanya tumbuh tipis sebesar 2,6 persen.
Sementara, sektor pertambangan minus hingga 27,3 persen serta transportasi dan pergudangan minus 5,6 persen. Sri Mulyani bilang penerimaan pajak dari sektor pertambangan sebesar Rp7,18 triliun, sedangkan transportasi dan pergudangan Rp4,88 triliun.
"Perlambatan sektor perdagangan harus diwaspadai. Ini mungkin karena Virus Corona terutama paruh kedua Januari 2020. Sebelumnya tumbuh 8,4 persen, sekarang justru hanya 2,6 persen," kata Sri Mulyani.
(aud/agt)