Sekretaris Menko Perekonomian Susiwijono mengatakan kesulitan terjadi karena 74 persen barang modal untuk industri manufaktur berasal dari Cina. Sebagai informasi, China merupakan pusat penyebaran wabah virus corona.
Susiwijono mengatakan saat ini pasokan bahan industri manufaktur masih ada. Namun, ia khawatir pasokan terus menurun kalau wabah tak segera tertanggulangi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk orang, lalu lintas terhenti setelah pemerintah memutuskan untuk menghentikan penerbangan dari dan menuju ke China sejak 5 Februari. Penghentian lalu lintas tersebut telah mengurangi penerimaan negara di sektor pariwisata.
"Lalu lintas orang langsung terdampak, karena 5 Februari disetop. Wisman China langsung nol. Lalu lintas barang, uang juga terdampak langsung. Selain itu, purchasing sampai payment butuh 2 sampai 3 bulan, ini harus dihitung. Karena itu, pemerintah sekarang terus monitor," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan Roeslani mengatakan krisis bahan baku akan berimbas pada penurunan tingkat produksi industri. Ia mengatakan jika pemerintah tak mengambil langkah konkret, harga barang terancam akan naik.
"Kalau barang baku enggak masuk, tentu kita terpaksa mengurangi produksi," kata Rosan.
[Gambas:Video CNN]
Rosan mengatakan untuk mencari solusi guna mengatasi krisis bahan baku tersebut pihaknya tengah berdiskusi dengan asosiasi industri terkait. Dalam diskusi ada satu hal yang bisa ditempuh agar krisis bahan baku bisa diatasi; mencari pengganti bahan baku impor masing-masing Industri dari China.
Dari sisi industri farmasi, Rosan menyebut Indonesia dapat mendekati India untuk menyuplai stok kebutuhan obat dalam negeri.
"Mungkin kalo dari farmasi, harus lihat dari India juga. Jadi memang harus dicari terobosan, dilihat dengan potensi negara-negara lain yang memang bisa menggantikan walaupun tidak secara keseluruhan, tetapi bisa menggantikan perannya," pungkasnya. (ara/agt)