Ia tak merinci berapa penurunan ekspor karet dan CPO yang terjadi akibat virus tersebut. Ia hanya mengatakan karena pelemahan tersebut, pemerintah akan meningkatkan kewaspadaan agar daya tahan ekonomi tetap terjaga.
"Belum selesai perang dagang Amerika-RRT berakhir, wabah virus corona menyebar sejak Januari 2020. Virus cepat menyebar ke Jepang, Korsel bahkan di Italia 19 kota sudah ditutup. Inilah dinamika ekonomi global," kata Sri Mulyani di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Realisasi itu turun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang masih bisa mencapai Rp90 triliun.
Penerimaan perpajakan itu baru setara 4,5 persen dari target sebesar Rp1.865,7 triliun yang ditetapkan pemerintah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Ia menyatakan penerimaan pajak dari sektor perdagangan sebesar Rp22,18 triliun atau hanya tumbuh tipis sebesar 2,6 persen.
"Perlambatan sektor perdagangan harus diwaspadai. Ini mungkin karena Virus Corona terutama paruh kedua Januari 2020. Sebelumnya tumbuh 8,4 persen, sekarang justru hanya 2,6 persen," kata Sri Mulyani, Rabu (19/2).
Dari sisi jenis penerimaan pajak, PPh 22 impor turun 7,43 persen menjadi Rp4,3 triliun. Kemudian, penerimaan PPh badan merosot 29,34 persen menjadi Rp6,92 triliun, PPh 26 turun 18,66 persen menjadi Rp3,6 triliun, dan PPN impor turun 11,65 persen menjadi Rp12,3 triliun.
Untuk menjaga agar ekonomi dalam negeri tetap terjaga, pemerintah beberapa waktu mengeluarkan stimulus. Stimulus salah satunya berbentuk penambahan saldo kartu sembako murah dari Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu untuk 15 juta masyarakat miskin.
Peningkatan tersebut diharapkan bisa mendorong belanja masyarakat sehingga ekonomi bisa tetap tumbuh.
[Gambas:Video CNN]
(idz/agt)