Ketidakmampuan pasar dalam menyediakan permintaan masker akhirnya berakibat pada menipisnya stok dari produsen masker. Hal ini dimanfaatkan oleh para pengecer untuk melambungkan harga masker.
Direktur Ekonomi KPPU Zulfirmansyah menyebut kondisi kebutuhan di masyarakat yang tak wajar itu berimbas ke harga jual yang tidak normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komisioner KPPU Guntur Saragih menilai kelatahan masyarakat memborong stok masker di toko-toko menjadi alasan utama kekosongan stok.
"Tingginya permintaan tidak hanya karena meningkatkan kebutuhan tapi pembelian panik sehingga melebihi konsumsi," jelasnya.
Pada platform Shopee, misalnya, satu kotak isi 50 lembar masker merek Sensi dijual seharga Rp500 ribu hingga Rp700 ribu pada salah satu toko online. Toko online lainnya, menjual masker dengan merek yang sama hingga Rp700 ribu per kotak.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan ada 50 juta stok masker di Indonesia usai diumumkannya dua WNI positif virus corona. Ia pun meminta warganya tak panik memborong masker. Pasalnya, alat kesehatan ini dianjurkan hanya untuk yang sakit.
Jokowi juga mengingatkan agar masyarakat tak gegabah dengan memborong seluruh kebutuhan pokok. Menurutnya, sikap panic buying di sejumlah tempat perbelanjaan ini justru akan membuat stok habis.
[Gambas:Video CNN]
"Masyarakat tidak perlu memborong kebutuhan sehari-hari yang justru bikin langka karena pembelian besar-besaran, tindakan memborong, dan menimbun itu sendiri," ucap Jokowi.
Mantan gubernur DKI Jakarta itu memastikan stok kebutuhan pokok tetap tersedia bagi masyarakat. Ia mengaku telah mengecek langsung ke Bulog dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) terkait ketersediaan barang tersebut.
"Pemerintah menjamin ketersediaan barang dan obat-obatan yang ada. Saya tadi sudah cek ke Bulog, cek ke Aprindo, semua memberikan jaminan ketersediaan bahan pokok dan obat-obatan," tuturnya.