"Indonesia masuk G20, size (ukuran) ekonomi termasuk besar, pertumbuhan relatif tinggi. Namun, Indonesia setiap kali mau lari lebih kencang, selalu ada yang mengerem. Kalau bahasa inggrisnya achilles heels, kira-kira tungkainya itu lemah jadi (kalau) lari kencang tungkainya lemas," katanya di Hotel Borobudur, Kamis (5/3).
Sri Mulyani mengungkapkan setiap kali pemerintah berencana untuk menggenjot perekonomian, nilai ekspor kerap kewalahan mengimbangi nilai impor. Ujung-ujungnya defisit negara perdagangan, yang merupakan kontributor transaksi berjalan, kian melebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Sri Mulyani mengingatkan secara kualitas komponen, ekspor dan impor pada 2019 memiliki nilai lebih rendah dari 2018.
Tahun lalu, nilai ekspor tercatat US$168,5 miliar atau turun 6,7 persen dibandingkan 2018, US$180,7 miliar. Sementara, impor jatuh lebih dari US$181 miliar pada 2018 menjadi US$164,9 miliar pada 2019.
[Gambas:Video CNN]
"Sehingga dihitung GDP (Pendapatan Domestik Bruto), ekspor minus impor (memang) kelihatan positif. Kalau dari growth (pertumbuhan) bagus, tapi komponen enggak bagus," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia optimistis perekonomian Indonesia berpotensi dapat tumbuh 6 hingga 7 persen apabila dapat memperbaiki masalah ekspor dan impor tersebut.
"Indonesia sebagai negara besar, harusnya Indonesia bisa tumbuh 6-7 persen. Namun, bisa tumbuh 6-7 persen kalau bisa perbaiki masalah fundamental ini," pungkasnya.