Berdasarkan data DJBC Kemenkeu, realisasi penerimaan bea masuk atas impor hanya sebesar Rp5,5 triliun pada periode 1 Januari sampai 29 Februari 2020. Realisasi ini lebih rendah dari Rp5,8 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
"Pengaruh corona sudah mulai kami rasakan di impor dan itu tentunya berdampak pada devisa impor," ujar Heru, Jumat (6/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Ekspor China Anjlok Imbas Virus Corona |
"Pergerakan ekspor menunjukkan kinerja yang dampaknya tidak seberat seperti impor. Ini artinya kami bisa merespons dengan baik di ekspor dan menjadi concern pemerintah agar bagaimana ekspor ini berlanjut bahkan ditingkatkan," terangnya.
Heru mengatakan penurunan bea keluar sejatinya tidak hanya karena faktor wabah virus corona, namun juga kebijakan larangan ekspor nikel ore. Pasalnya, pemerintah ingin komoditas mineral mentah diolah di dalam negeri dan diprioritaskan untuk kebutuhan nasional.
[Gambas:Video CNN]
"Bea keluar mengalami koreksi karena ada keputusan pemerintah melarang ekspor nikel ore, saya kira itu juga," katanya.
Sebelumnya, DJBC Kemenkeu turut mencatat ada penurunan devisa impor dari China. Semula, jumlahnya masih berkisar US$1,09 miliar pada 1 Desember 2019.
Namun, sejak wabah virus corona berkembang dan meluas ke berbagai kota di China, jumlah devisa impor 'terjun payung'. Devisa impor hanya mencapai US$999 juta pada 1 Januari 2020.
Kemudian, turut lagi menjadi tinggal US$463 miliar pada 28 Februari 2020. Penurunan impor dari China terjadi pada berbagai jenis barang, namun, yang cukup signifikan adalah peralatan mesin dan komputer.