Trump Usul Diskon Pajak, Harga Minyak Dunia Terdongkrak

CNN Indonesia | Rabu, 11/03/2020 07:07 WIB
Harga minyak dunia terdongkrak usai Presiden AS Donald Trump merencanakan pemangkasan pajak. Harga minyak dunia terdongkrak usai Presiden AS Donald Trump merencanakan pemangkasan pajak. (AFP/Jim Watson).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia bangkit, usai terpuruk beberapa hari terakhir. Harga minyak mentah terdongkrak lebih dari 8 persen, yang merupakan balik arah (rebound) terbesar dalam rentang nyaris 30 tahun.

Mengutip Antara, Selasa (11/3), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik US$2,86 atau 8,32 persen ke posisi US$37,22 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April menguat US$3,23 atau 10,38 persen menjadi US$34,36 per barel.

Kenaikan harga minyak ditopang stimulus ekonomi global yang diyakini bakal mendorong permintaan minyak.


Salah satunya, kebijakan fiskal Presiden AS Donald Trump untuk memangkas pajak guna menyeimbangkan ekonomi AS terhadap dampak penyebaran virus corona. Tak hanya AS, pemerintah Jepang juga berencana menggelontorkan lebih dari US$4 miliar melalui paket stimulus ekonomi kedua guna mengatasi dampak negatif virus corona.

"Harga minyak naik hari ini karena turun secara gila-gilaan kemarin. Beberapa pemburu harga murah mendorong kenaikan harga minyak," ujar Konsultan Energi Rystad Bjoernar Tonhaugen.

Sebelumnya, dua acuan harga minyak jatuh 25 persen ke level terendah sejak Februari 2016. Penyebabnya, Arab Saudi dan Rusia sama-sama mengatakan akan meningkatkan produksi.

Pakta tiga tahun dua negara dan produsen minyak utama lainnya atau dikenal sebagai OPEC+, untuk membatasi pasokan gagal disepakati. Sebab, Rusia menolak menambah potongan produksi untuk mengatasi penurunan permintaan yang disebabkan virus corona.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser menerangkan Arab Saudi sebagai pengekspor minyak terbesar dunia berencana memasok 12,3 juta barel per hari (bph) pada April. Angka itu jauh di atas tingkat produksi saat ini sebesar 9,7 juta bph.

Sementara itu, Menteri Perminyakan Rusia Alexander Novak mengatakan pihaknya tidak akan mengesampingkan langkah-langkah bersama dengan OPEC+ untuk menstabilkan pasar. Ia menambahkan pertemuan OPEC+ berikutnya direncanakan pada Mei-Juni.

Namun, Menteri Energi Arab Saudi mengaku tidak melihat perlunya pertemuan OPEC+ kembali pada Mei-Juni. Pertemuan tidak diperlukan apabila tidak ada kesepakatan mengenai langkah penanganan dampak virus corona pada permintaan dan harga minyak.

"Saya gagal melihat kebijaksanaan mengadakan pertemuan pada Mei-Juni, yang hanya akan menunjukkan kegagalan kami dalam memperhatikan apa yang seharusnya kami lakukan dalam krisis seperti ini," kata Pangeran Abdulaziz bin Salman.

Meski berhasil menguat, analis memperkirakan permintaan minyak global akan terus merosot selama penyebaran wabah. Terlebih, virus corona menyebar cepat di luar China, sehingga mendorong beberapa negara mengambil langkah isolasi termasuk Italia.

[Gambas:Video CNN]

(ulf/bir)