Mengutip Antara, Selasa (11/3), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik US$2,86 atau 8,32 persen ke posisi US$37,22 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April menguat US$3,23 atau 10,38 persen menjadi US$34,36 per barel.
Kenaikan harga minyak ditopang stimulus ekonomi global yang diyakini bakal mendorong permintaan minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakta tiga tahun dua negara dan produsen minyak utama lainnya atau dikenal sebagai OPEC+, untuk membatasi pasokan gagal disepakati. Sebab, Rusia menolak menambah potongan produksi untuk mengatasi penurunan permintaan yang disebabkan virus corona.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser menerangkan Arab Saudi sebagai pengekspor minyak terbesar dunia berencana memasok 12,3 juta barel per hari (bph) pada April. Angka itu jauh di atas tingkat produksi saat ini sebesar 9,7 juta bph.
Namun, Menteri Energi Arab Saudi mengaku tidak melihat perlunya pertemuan OPEC+ kembali pada Mei-Juni. Pertemuan tidak diperlukan apabila tidak ada kesepakatan mengenai langkah penanganan dampak virus corona pada permintaan dan harga minyak.
"Saya gagal melihat kebijaksanaan mengadakan pertemuan pada Mei-Juni, yang hanya akan menunjukkan kegagalan kami dalam memperhatikan apa yang seharusnya kami lakukan dalam krisis seperti ini," kata Pangeran Abdulaziz bin Salman.
Meski berhasil menguat, analis memperkirakan permintaan minyak global akan terus merosot selama penyebaran wabah. Terlebih, virus corona menyebar cepat di luar China, sehingga mendorong beberapa negara mengambil langkah isolasi termasuk Italia.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)