"Saat ini kami sedang mempelajari situasinya dan akan memberikan tanggapan yang lebih detail kepada pengirim surat dalam waktu dekat," ungkap Senior External Affairs Officer Lestari Boediono kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/3).
Ia memastikan Bank Dunia selalu terbuka untuk melakukan komunikasi dengan seluruh pihak. Tetapi, Lestari mengaku belum bisa berkomentar lebih banyak terkait penolakan warga adat Wae Sano terhadap proyek panas bumi di wilayah setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yoseph bilang surat penolakan atas proyek panas bumi itu diberikan kepada pimpinan perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia di Jakarta dengan tembusan kepada Presiden Grup Bank Dunia David Malpass.
"Kami masyarakat adat Wae Sano berkeberatan dengan proyek pengeboran panas bumi di Wae Sano. Titik-titik pengeboran yang ditetapkan oleh SMI terletak di tengah-tengah ruang hidup kami," ucap Yoseph dalam keterangan resmi.
"Titik yang hendak dieksplorasi itu persis berada di ruang hidup kami," ujar Yoseph.
Sementara, Direktur SMI Darwin Trisna Djajawinata menyatakan pihaknya belum melakukan aktivitas apapun atas proyek panas bumi di Wae Sano. Ia mengaku perusahaan masih melakukan sosialisasi terkait proyek tersebut.
"Kami belum melakukan kegiatan fisik apapun, karena ingin memastikan masyarakat memahami dan menyepakati pelaksanaan ini," ucap Darwin.
Lihat juga:Jokowi Izinkan Asing Kelola Aset Negara |
SMI mendapatkan dana hibah dari Bank Dunia sebesar US$30 juta-US$32 juta untuk melakukan eksplorasi di Wae Sano. Sementara, total dana yang diperoleh SMI dari Bank Dunia mencapai US$55 juta.
"Untuk pemanfaatannya bergilir, untuk Wae Sano sebagai proyek pertama yang kami gunakan dari dana hibah," pungkas Darwin.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)