Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar Yuliardi Qamal, anggotanya mengeluhkan sepinya bisnis hotel dan restoran sejak dua bulan terakhir dan banyaknya acara yang dibatalkan.
"Kami paham kondisi saat ini terjadi di seluruh dunia. Karenanya, kami mendukung langkah pemerintah membatasi masuknya orang dari luar negeri, khususnya negara-negara yang terdampak virus corona," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada satu pun yang tahu kapan wabah virus corona ini akan selesai. Tentu, ini berdampak pada dunia usaha. Bank tidak mau tahu soal dampak corona (terhadap kredit). Kami terjepit. Tanpa kompensasi, bisa saja kami merumahkan pekerjanya," imbuhnya.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Pontianak sendiri banyak disumbang oleh pariwisata, termasuk pajak hotel dan restoran. "Kami harapkan ada kompensasi menghapus pajak sementara waktu," terang Yuliardi.
"Dua kementerian yang akan melaksanakan kegiatan di hotel kami pun membatalkan kunjungannya karena virus corona ini. Pada perayaan Cap Go Meh Februari lalu, dari total 155 kamar yang tersedia, hanya 100 saja yang terisi," ungkapnya.
Pun demikian, Lilo melanjutkan belum ada upaya manajemen merumahkan karyawannya. Saat ini, biaya operasional masih dalam batas kemampuan. "Tapi kalau berdampak, ya pasti lah karena virus corona," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(dho/bir)