"(Produksi) masker 2 juta itu semuanya oleh RNI, kerja sama dengan pabrikan lokal. Jadi RNI order supaya cepat," kata Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga melalui video conference, Rabu (18/3).
Ia menuturkan bahan baku masker akan didatangkan dari China dan Prancis. Namun, ia mengaku pemerintah mengalami keterbatasan pengiriman bahan baku dari Prancis lantaran negara tersebut melakukan kebijakan penutupan akses keluar dan masuk (lockdown).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Pasokan Gula Pasir di Ritel Modern Habis |
Rencananya, masker produksi RNI akan dijual oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk kepada masyarakat. Perusahaan farmasi pelat merah itu juga mengalokasikan kebutuhan masker untuk pemerintah daerah.
Untuk diketahui, masker mendadak menjadi barang langka justru saat masyarakat membutuhkan sebagai pencegahan penularan virus corona. Tak hanya itu, harganya pun melonjak drastis.
Larangan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker.
Opsi Masker Kain
Arya menuturkan beberapa pihak mengusulkan kepada Kementerian BUMN untuk membuat masker dari kain. Solusi ini guna menyikapi kelangkaan masker di pasar maupun kesulitan bahan baku pembuatan masker.
[Gambas:Video CNN]
"Ada usulan kemarin bikin masker pakai kain. Kalau tekstil kan kita banyak," ucapnya.
Ia mengatakan pembuatan masker kain tidak terbatas bagi perusahaan pelat merah saja. Ia mempersilahkan semua pihak yang mampu untuk memproduksi masker kain. Namun, usulan tersebut belum dibahas lebih lanjut oleh Kementerian BUMN.
"Kami dapat informasi kemarin pakai masker kain bisa, (masker kain) dicuci bisa, kalau pakai deterjen virus corona mati," ucapnya.
(ulf/sfr)