Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan pemangkasan target berasal dari proyeksi kondisi ekonomi Indonesia ke depan yang masih cukup berat. Hal ini utamanya karena penyebaran virus corona terus meluas di dalam negeri.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per Kamis (19/3), jumlah pasien virus corona mencapai 309 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 25 orang meninggal dunia dan 15 orang sembuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia mengatakan laju perekonomian domestik akan lebih lambat karena virus corona turut menginfeksi prospek pertumbuhan ekspor dan impor. Sebab, distribusi dan rantai pasok barang terganggu.
Bila ini terus terjadi, bukan tidak mungkin akan turut menekan realisasi investasi dan konsumsi yang merupakan kontributor ekonomi Indonesia, meski pemerintah melakukan berbagai kebijakan stimulus. Misalnya, dengan paket stimulus hingga omnibus law di bidang penciptaan lapangan kerja dan perpajakan.
Tak hanya dari dalam negeri, BI melihat penurunan prospek ekonomi domestik menjadi wajar karena proyeksi laju perekonomian global juga turun. Semua, BI memperkirakan ekonomi global akan berada di kisaran 3 persen, namun pandemi virus corona diperkirakan hanya akan membuat ekonomi berada di kisaran 2,5 persen.
"Ketidakpastian sangat tinggi, menurunkan kinerja pasar keuangan global, menekan mata uang di dunia, memicu pembalikan modal. Lalu, keyakinan pelaku ekonomi, angka PMI, serta konsumsi dan produksi listrik menurun tajam," jelasnya.
Kendati prospek ekonomi Indonesia dan dunia meredup pada tahun ini akibat corona, namun Perry meyakini kondisi ekonomi akan membaik pada tahun depan. Proyeksinya, ekonomi dunia berada di kisaran 3,7 persen dan Indonesia di kisaran 5,2 persen sampai 5,6 persen.
Menurutnya, perbaikan ekonomi tahun depan akan dipicu oleh pemulihan aktivitas industri di China usai pandemi virus corona. Begitu pula dengan negara-negara lain di luar China yang masih terus berjuang melawan virus corona, termasuk Indonesia.
Selain itu, stimulus dari berbagai pemerintah dan bank sentral negara-negara di dunia akan turut mendorong roda ekonomi di akhir tahun ini hingga tahun depan. Amerika Serikat misalnya, Presiden AS Donald Trump siap mengguyur dana senilai US$1 triliun untuk menggairahkan ekonomi Negeri Paman Sam.
Menurutnya, berbagai paket stimulus ekonomi dari pemerintah akan memberi dorongan ke pertumbuhan. Begitu pula dengan kebijakan moneter dari BI dan perbankan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Langkah-langkah koordinasi kebijakan berkelanjutan yang ditempuh akan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," tuturnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/age)