Selama pelantar digital ini diujicobakan di tiga kabupaten di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 2019, Room to Read dan mitra lokal, Mutiara Rindang, Taman Bacaan Pelangi dan Yayasan Literasi Anak Indonesia, mendokumentasikan pembelajaran yang diperoleh dalam mengimplementasikan pelantar di konteks yang berbeda.
"Room to Read memahami bahwa pendidikan merupakan alat paling efektif untuk menyelesaikan tantangan terbesar dunia - seperti kemiskinan, krisis kesehatan, degradasi lingkungan dan ketidaksetaraan," ujar Direktur Ekspansi Strategis Room to Read, Joel Bacha.
Sebagai upaya lanjutan dalam mengembangkan efektivitas pola pengajaran guru dalam meningkatkan literasi siswa, Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), turut mendukung kolaborasi Room to Read dengan ProVisi Education dalam menyelenggarakan seminar nasional untuk para guru di Indonesia. Seminar selama tiga minggu tersebut membahas optimalisasi pelantar digital untuk meningkatkan kebiasaan membaca siswa.
![]() |
Kegiatan tersebut mendukung pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim soal pengembangan teknologi pedidikan. Ia mengatakan, memprioritaskan pengembangan teknologi dan digitalisasi untuk pendidikan di Indonesia dapat memfasilitasi sekolah untuk mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak dan meningkatkan hasil belajar.
![]() |
"Literasi memiliki kekuatan untuk memajukan seluruh masyarakat dan mengurangi masalah kritis sebagaimana anak-anak merupakan pembuat perubahan dan menciptakan jalur untuk memecahkan masalah sulit dengan cara-cara baru," kata Joel.
(adv/adv)

