"Kami laporkan, tahun ini, kami sudah menginjeksi rupiah hampir Rp300 triliun," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo, Jumat (20/3).
Suntikan tersebut diberikan dalam bentuk pembelian SBN mencapai Rp163 triliun dan perubahan batas pencadangan kas bank di BI dengan denominasi rupiah atau dikenal dengan istilah Giro Wajib Minimum (GWM) mencapai Rp51 triliun sejak awal tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data BI mencatat aliran modal keluar mencapai Rp105,1 triliun secara neto pada Kamis (19/3). Jumlah itu terdiri dari SBN sebesar Rp92,8 triliun dan saham Rp8,3 triliun.
"Sebagian besar capital outflow terjadi pada bulan Maret, seiring eskalasi penyebaran virus yang cepat di AS dan Eropa. Mereka melepas aset dan kemudian dikonversi ke dolar AS," terangnya.
[Gambas:Video CNN]
Lebih lanjut, Perry menekankan BI akan terus berada di pasar dengan tiga pilar intervensinya. Selain itu, BI juga akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan kebijakan makroprudensial lain dan moneter.
Dari sisi moneter, BI baru saja menurunkan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen. Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen dan 5,25 persen. (uli/agt)