"Mohon maaf, masyarakat yang membandingkan Rp16 ribu sekarang dengan krisis Asia 1997-1998. Yang terjadi saat ini sangat berbeda dengan krisis global 2008, apalagi krisis Asia (1998)," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (26/3).
Perry menjelaskan kondisi saat ini berbeda dengan krisis 1998 karena nilai tukar rupiah tidak anjlok dari kisaran Rp2.500 menjadi Rp16 ribu per dolar AS seperti pada masa itu. Saat ini, rupiah hanya melemah dari kisaran Rp13.800 menjadi Rp16 ribu per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbankan jauh lebih kuat, perbankan di seluruh dunia juga lebih kuat," imbuhnya.
Sementara posisi CAR bank pada 1998 mencapai minus 15,7 persen lalu meningkat hingga 21,6 persen pada 1999. Sedangkan CAR pada 2008 berkisar 16,8 persen.
"Dari sisi langkah ekonomi juga cukup baik dari kebijakan moneter, fiskal, maupun stabilitas sistem keuangan (saat ini), hanya saja sekarang kepanikan dari seluruh dunia meningkat," katanya.
Selain itu, indikator makro ekonomi lain masih cukup baik. Misalnya, inflasi yang terjaga rendah 0,28 persen secara bulanan dan 2,98 persen secara tahunan pada Februari 2020.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini cenderung tidak seburuk masa-masa krisis lalu karena Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari pemerintah, BI, OJK, dan LPS menggunakan protokol pemantauan. Protokol ini dibentuk sebagai pembelajaran dari krisis 2008.
Jurus Kuatkan Rupiah
Perry meyakini pelemahan nilai tukar rupiah akan berlangsung sementara karena BI terus berada di pasar dengan berbagai intervensinya. Mulai dari intervensi likuiditas di pasar spot, DNDF, hingga membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas asing.
Lalu, bank sentral juga menambah likuiditas di perbankan melalui kebijakan repo dan pelonggaran batas cadangan kas bank di BI atau Giro Wajib Minimum (GWM). Kemudian, bank sentral juga melakukan konvergensi nilai tukar rupiah di bank dan perusahaan perantara jual beli mata uang (broker).
Langkah ini dilakukan dengan menggelontorkan cadangan devisa Indonesia yang tersisa US$130,6 miliar pada Februari 2020. Ia mengatakan langkah ini memang akan menurunkan ketersediaan devisa, namun mau tidak mau perlu dilakukan agar stabilitas kurs rupiah terjaga.
Kendati begitu, Perry mengaku bank sentral belum terpikir untuk menambah kekuatan cadangan devisa dengan cara meminjam ketersediaan valuta asing dari bank sentral lain, misalnya melalui bilateral swap.
Saat ini, BI memiliki kuota bilateral swap dengan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) sebesar US$30 miliar, bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) US$22,7 miliar, dan bank sentral Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) $10 miliar.
Tak Ganggu Inflasi
Di sisi lain, Perry menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini tidak akan mengganggu tingkat inflasi nasional. Terbukti, katanya, hasil survei bank sentral nasional justru menunjukkan potensi inflasi hanya sebesar 0,11 persen secara bulanan dan 2,98 persen secara tahunan pada Maret 2020.
Menurutnya, secara menyeluruh ada empat indikator inflasi akan terjaga rendah dan berada di kisaran target BI sebesar 3 persen plus minus 1 persen. Pertama, pasokan yang diklaim mencukupi.
[Gambas:Video CNN]
Kedua, arus penawaran (supply) dan permintan (demand) terjaga. Ketiga, pemantauan oleh tim pengendali inflasi pusat dan daerah terus berlangsung.
Keempat, pelemahan rupiah hanya bersifat sementara akibat kepanikan investor di tengah pandemi corona. "Saya yakin korporasi tidak akan menaikkan harga karena pelemahan rupiah. Kami tidak melihat ada lonjakan harga karena pemerintah menjamin pasokan dan sudah antisipasi termasuk untuk Ramadan," ungkapnya.