"Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Petrokimia Gresik mengekspor pupuk ke Meksiko. Sebelumnya, kami lebih banyak bermain di pasar regional Asia seperti India, Filipina, dan Sri Lanka," ujar Rahmad.
Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan sangat berdampak baik di perdagangan maupun perekonomian global, penjualan ekspor pupuk Petrokimia Gresik disebut tidak terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, Rahmad menyatakan optimisme bahwa pihaknya akan kembali mencetak rekor penjualan ekspor pada tahun ini. Perusahaan menargetkan ekspor pupuk komersil ZK, NPK, NPS, dan Urea sebanyak 435 ribu ton, atau 10 persen lebih besar dari catatan kinerja ekspor tertinggi sepanjang sejarah Petrokimia Gresik tahun 2019, yaitu 392 ribu ton.
Terkait pengiriman pupuk ekspor yang melibatkan awak kapal asing di tengah wabah virus corona, Rahmad menyebut Petrokimia Gresik telah menyusun dan menjadwalkan protokol pencegahan yang juga diterapkan di seluruh pelabuhan Petrokimia Gresik.
Lebih lanjut, ia menjamin ekspor tersebut tak akan mengganggu pasokan pupuk bersubsidi nasional. Dari 7,9 juta ton alokasi pupuk bersubsidi nasional yang ditetapkan Kementerian Pertanian, Petrokimia Gresik bertanggung jawab atas penyaluran sebesar 4,1 juta ton, sementara sisanya disalurkan oleh produsen lain di bawah Pupuk Indonesia.
Saat ini kapasitas produksi pabrik Petrokimia Gresik mencapai 8,9 juta ton per tahun, dengan pembagian 3,9 juta ton produk non-pupuk dan 5 juta ton produk pupuk. Ditambah dengan 1,5 juta ton pupuk organik yang diproduksi Mitra Produksi Petroganik di berbagai daerah, Rahmad meyakini kesempatan memperluas pasar pupuk komersil, baik ekspor maupun domestik, masih terbuka lebar. (rea)