Mengutip Antara, Jumat (3/4), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei melonjak US$5,20 atau 21 persen ke posisi US$29,94 per barel.
Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman di Mei meningkat US$5,01 atau 24,7 persen menjadi US$25,32 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah media pemerintah Saudi mengatakan pihak kerajaan meminta pertemuan darurat dengan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menghadapi gejolak pasar.
Sementara itu, Wall Street Journal sebagaimana dikutip melaporkan kerajaan akan mempertimbangkan untuk menurunkan produksi menjadi 9 juta barel per hari (bph). Jumlah itu turun 3 juta bph dari rencana produksi Arab Saudi sebelumnya, yakni 12 juta bph pada April mendatang.
Penyebaran pandemi virus corona menekan tajam permintaan bahan bakar. Akibatnya, harga minyak mentah AS turun di bawah level US$20 per barel dalam beberapa hari terakhir.
Permintaan bahan bakar diperkirakan jatuh 20 persen hingga 30 persen dalam beberapa bulan mendatang. Penurunan ini mendesak produsen-produsen minyak untuk segera membuat kesepakatan pengurangan produksi.
Meski Arab Saudi mengisyaratkan pemangkasan produksi, Analis di Capital Economics menilai Arab Saudi tidak mungkin mau memotong produksi, kecuali Rusia dan produsen non-OPEC lainnya, seperti Amerika Serikat dan Kanada ikut memangkas produksinya.
"Meskipun menjadi berita utama hari ini, kami tetap skeptis bahwa kesepakatan untuk memotong produksi akan terwujud," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/bir)