Mengutip CNN.com, Jumat (3/4) manajemen menyatakan perusahaan menerapkan skema cuti berbayar untuk mengurangi dampak tekanan finansial kepada staf.
Setelah pembicaraan dengan serikat pekerja, British Airways setuju untuk memberi setiap pekerja 80 persen dari gaji reguler mereka, tanpa batasan penghasilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pandemi virus corona membuat seluruh maskapai penerbangan di dunia bertekuk lutut, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Sebab, AS telah melarang penerbangan dari Eropa.
Akibatnya, banyak maskapai memangkas atau menangguhkan jadwal penerbangan. Kondisi ini memaksa perusahaan memberikan cuti tidak dibayar bagi pekerja hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
[Gambas:Video CNN]
Belum Ada Bantuan Dana
Di tengah tekanan itu, pemerintah belum menjanjikan dana talangan kepada industri penerbangan. Sebaliknya, pemerintah AS berjanji akan memberikan stimulus sebesar US$50 miliar dari US$2 triliun dana yang disiapkan untuk menanggulangi dampak ekonomi virus corona.
Pemerintah Inggris mengatakan bahwa maskapai penerbangan dapat memanfaatkan segala pelonggaran untuk membantu bisnis mereka seperti keringanan pajak. Pemerintah juga mendorong perusahaan meningkatkan modal dari investor.
"Kami terus bekerja sama dengan sektor ini dan bersedia mempertimbangkan situasi masing-masing perusahaan, selama semua skema pemerintah lainnya telah dicoba dan opsi komersial habis, termasuk meningkatkan modal dari investor," kata juru bicara pemerintah.
Di sisi lain, Airbus mengatakan bahwa perusahaan sangat menganjurkan pemerintah memberikan dukungan bagi semua maskapai.
"Tidak ada lagi kondisi normal untuk industri penerbangan," tandas analis di CAPA Center for Aviation. (ulf/bir)