Ekonom INDEF Eko Listiyanto mengungkapkan hasil riset big data yang dilakukan memaparkan perbincangan masyarakat di sosial media Twitter terkait penanganan pemerintah menghadapi pandemi, cenderung negatif. Sayangnya, fakta tersebut direspons negatif oleh pelaku pasar.
"Ketika mereka respons, cepat tidak confidence (percaya diri) terhadap penanganan covid-19, akhirnya outflow cukup besar dari pasar Indonesia. Munculnya sentimen negatif dalam kebijakan ini, membuat fluktuasi susah dihentikan " ujarnya, melalui video conference, Minggu (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, kata Eko, rupiah pernah terdepresiasi hingga 500 poin dalam satu hari, jauh melampaui rata-rata pelemahan dalam sehari yakni di bawah Rp100 per dolar AS. Kondisi serupa terjadi pada IHSG. Pekan lalu, indeks saham ditutup di level 4.623.
Ideks saham terjungkal tajam dibandingkan awal Maret, yakni 5.638. Indeks saham sempat meninggalkan level 4.000-an dan terpaksa dibekukan sementara (trading halt) karena turun lebih dari 5 persen.
"Ini sebuah situasi yang semakin susah di sektor keuangan, dan berimbas kepada macam-macam aspek. Peluang terjadinya krisis juga sangat besar kalau tidak bisa ditangani," ucapnya.
Pasar keuangan China kembali stabil lantaran pemerintah berhasil mengatasi pandemi itu dengan melakukan lockdown masyarakat di Provinsi Wuhan, tempat asal virus tersebut.
"Level confidence (kepercayaan) pasar baru akan muncul ketika penanganan covid-19 dinilai positif oleh masyarakat, artinya didukung oleh masyarakat, aspirasi masyarakat juga didengar dan dilakukan oleh pemerintah," katanya.
Hingga Sabtu (5/4), kasus positif virus corona di Indonesia meningkat menjadi 2.273. Dari jumlah tersebut, 198 orang meninggal dunia dan 164 lainnya berhasil sembuh.
Dalam kesempatan yang sama, ekonom senior Indef Didik J Rachbini memaparkan hasil analisa big data Indef menunjukkan bahwa mayoritas percakapan di media sosial Twitter memuat sentimen negatif kepada pemerintah dalam menangani virus corona.
Indef menganalisa 145 ribu perbincangan dari 135 ribu pengguna Twitter tentang penanganan virus corona di Indonesia. Jumlah akun tersebut telah disaring dari akun yang dikategorikan buzzer.
Hasilnya, sebesar 66,28 persen memberikan sentimen negatif dan hanya 33,72 persen sentimen positif. Data tersebut dihimpun Indef selama tiga pekan yakni Kamis, 27 Februari 2020 hingga Minggu, 22 Maret 2020.
"Itu berarti, pemerintah tidak mendapatkan kepercayaan tinggi dari masyarakat ditunjukan oleh (perbincangan) sentimen negatif," jelasnya.
Didik mengatakan mayoritas percakapan di Twitter tersebut adalah tentang lockdown yakni 38 persen. Terkait lockdown, ia merincikan 68 persen persen pembicaraan setuju dengan kebijakan lockdown.
Opini pengguna Twitter terkait lockdown antara lain mempermudah tracing dalam satu kota, mencegah keluar masuk manusia, dan keselamatan serta kesehatan warga menjadi hal terpenting, bukan ekonomi. Namun, hingga saat ini pemerintah pusat belum tegas mengenai kebijakan lockdown.
Dari hasil tersebut, Didik meminta pemerintah untuk mengevaluasi kinerja mereka dalam menangani pandemi ini. Sebab, pandemi ini merupakan masalah publik yang luas dan kompleks. Dalam hal ini, pemerintah dituntut untuk solid dan transparan sehingga mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
"Jadi riset ini bukan untuk menghujat pemerintah, tapi untuk bercermin. Ibaratnya, pemerintah berada dalam gedung, sehingga ia tidak tahu gedung itu miring. Nah orang di luar yang mengerti lantas memberi tahu," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/age)